Ketika Mobil Mogok, Pintu Tertutup, Muncul Pertolongan Allah dari Arah yang Tak Diduga
Ketika Mobil Mogok, Pintu Tertutup, dan Allah Membuka Pintu Jawaban di Jakarta
Pernahkah kita merasa sudah menyusun rencana sebaik mungkin,
tetapi seolah semesta justru menguji kesabaran? Itulah yang kami alami dalam
perjalanan keluarga pekan lalu, sebuah perjalanan yang diawali dengan niat
sederhana, dipenuhi lika-liku, namun berakhir dengan kebahagiaan yang tak kami sangka sebelumnya.
Awalnya, rencana kami cukup sederhana. Kami hanya berniat pergi ke Bandar Lampung untuk memenuhi undangan acara pesta pernikahan. Selain itu, kami juga memanfaatkan momentum hari libur nasional Isra' Mikraj mengantar istri mengikuti pelatihan mandiri BCLS selama tiga hari di Rumah Sakit Swasta Urip Sumoharjo di Bandar Lampung, mengapa hari libur yang dipilih agar tidak mengganggu hari kerja sebagai seorang ASN.
Kamis sore menjadi hari terakhir masuk kantor. Karena Jumat sudah mulai libur nasional dan cuti bersama, sepulang kerja kami langsung berkemas dan prepare untuk keberangkatan ke Bandar Lampung.
Rencananya, aku dan anak-anak akan menghadiri pesta pernikahan, sementara istriku fokus mengikuti pelatihan hingga selesai Minggu sore. Setelah semua agenda rampung, sesuai rencana kami bertolak kembali ke Liwa seperti biasanya mengingat hari Senin sudah masuk kerja kembali dan anak-anak sudah mulai masuk sekolah semua.
Namun hidup sering kali tak berjalan mulus sesuai rencana
Di tengah agenda itu, muncul tiba-tiba satu urusan yang tak terduga yang tak bisa ditunda. Yang awalnya sore Minggu kami harus pulang ke Liwa karena keesokan harinya sudah masuk kerja, namun muncul suatu urusan yang istriku harus selesaikan segera di Jakarta lantaran di provinsi tidak menemui solusi.
Awalnya istriku saja yang hendak berangkat namun anak-anak keberatan, tidak sampai hati membiarkan pergi sendirian sehingga setelah berembuk dan berdiskusi panjang dengan anak-anak dan berbagai macam pertimbangan dan masukan, akhirnya kami putuskan untuk ikut menemaninya ke Jakarta.
Insiden Mobil Mogok
Hari Minggu pagi tiba. Aku sudah berpakaian rapi, anak-anak
sudah siap dan antusias menghadiri acara pesta pernikahan. Namun saat hendak berangkat, mobil kami mogok.
Distarter berkali-kali, tetap tak menyala. Waktu terus berjalan, sementara
undangan pesta di gedung jelas memiliki batas waktu. Hati mulai gelisah. Sudah
mencoba mencari berbagai cara namun hasilnya nihil, maklumlah kami tidak memiliki basic skill pengetahuan tentang reparasi automotive khususnya mobil.
Akhirnya kami menghubungi montir (mekanik) langganan. Dengan sedikit harap-harap cemas, kucoba menelepon. Meski hari itu hari libur, alhamdulillah panggilan diangkat. Suaranya di ujung sana terdengar tenang, memberi sedikit rasa lega di tengah kepanikan kami.
Ia mengatakan akan datang sekitar setengah hingga satu jam lagi
Dalam hatiku mencoba menghitung waktu. Setengah jam… satu jam… rasanya tidak terlalu lama, setidaknya masih ada harapan. Di hari libur seperti ini, menemukan orang yang bersedia datang saja sudah patut disyukuri. Kami pun tak banyak pilihan selain menunggu, sambil terus melirik jam dan berharap waktu berjalan lebih cepat.
“Baik, Pak. Kalau Bapak berkenan menunggu, kira-kira setengah sampai satu jam lagi saya akan ke sana. Kebetulan hari ini libur, jadi harap maklum tidak ada karyawan yang membantu karena semuanya sedang liburan namun kalau bapak tidak sabar atau buru-buru silahkan bapak mencari yang lain,” ujarnya menjelaskan dengan nada yang terdengar sungguh-sungguh.
Tak terasa setengah jam berselang, disusul satu jam berikutnya berlalu, namun tak kunjung ada tanda-tanda akan kedatangan sang mekanik. Pikiranku mulai bercabang ke mana-mana. Terlintas kekhawatiran berkecamuk, jikalau yang rusak adalah dinamo starter, tentu akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya sementara kami berpacu dengan waktu. Belum lagi tiket penyeberangan Bakauheni–Merak yang sudah terlanjur kami pesan tadi malam melalui aplikasi Ferizy, jika melewati batas waktu check-in, tiket tentu bakalan hangus.
![]() |
| (Sengaja diblur barcode dan daftar manifes untuk kepentingan perlindungan data pribadi) |
Untungya, kami memilih jadwal penyeberangan malam hari. Pada tiket tertera batas akhir check-in (expired) hingga pukul 22.30 WIB, sehingga kami masih memiliki sedikit ruang waktu untuk berharap.
Jam terasa bergerak lebih cepat dari biasanya, sementara harapan terasa makin tipis
Saat rasa cemas memuncak dan di tengah kegelisahan dan kegalauan itu, tiba-tiba telepon berdering, terlihat jelas dari layar HP telepon masuk dari sang montir, ia meminta maaf atas keterlambatan datang lantaran ada urusan yang musti harus diselesaikan saat itu. "Hallo pak, mohon maaf lama menunggu karena urusan baru selesai, saya sebentar lagi tiba di sana, sekarang sudah meluncur ke arah alamat yang bapak berikan," ujarnya memastikan. "Baik mas tidak apa-apa, kami tunggu," ujarku sedikit lega.
Sejurus kemudian dan tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku spontan menoleh. Seorang pria dengan jaket kerja dan tas perkakas turun tergesa. Tak diduga belum sampai setengah jam usai bercakap lewat telepon, yang ditunggu akhirnya tiba di lokasi. Rupanyan montir datang seorang diri tanpa ditemani rekannya disebabkan sedang libur.
Rasanya seperti melihat cahaya di ujung lorong, bahagia rasanya menggambarkan suasana hati saat itu karena ada bala bantuan. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung memeriksa kondisi mobil. Kami berdiri di sampingnya, menunggu dengan degup jantung yang tak biasa.
Hal pertama yang dilakukannya memeriksa dengan seksama sistem pengapian mobil (rangkain kelistrikan) menggunakan tools kit dan termasuk jumper aki portable yang sudah dipersiapkan dari bengkel karena sebelumnya sudah mendapatkan informasi awal atas persoalan mobil tersebut.
Ternyata masalahnya cukup sederhana bila faham tapi sangat fatal, aki sudah soak. Sehingga kesimpulannya harus diganti dengan yang baru karena bila tetap menggunakan aki lama kuatir tidak bertahan lama, lagi pula akan digunakan untuk perjalanan jauh. Karena sang montir tidak sedia aki baru sehingga menyarankan mencari aki di bengkel temannya yang menjual sparepart mobil yang kebetulan berjarak tidak jauh dari tempat kami.
Setelah aki baru terpasang, mekanik (montir) itu menutup kap mesin lalu menoleh kepadaku. “Coba distarter, Pak,” katanya. Dengan sedikit ragu aku masuk ke kursi pengemudi, menarik napas, lalu memutar kunci kontak. “Jreeeng…” Sekali kontak, mesin langsung hidup.
Suara mesin pagi itu terasa seperti alunan musik paling merdu yang pernah kami dengar. Aku spontan menoleh ke arah anak-anak. “Alhamdulillah hidup…!” ucapku setengah tak percaya. Anak-anak terseyum lega dan bersorak kecil.
Mekanik itu hanya tersenyum ringan.
“Memang akinya sudah habis setrumnya tidak kuat menggerakkan dinamo stater, Pak. Sekarang aman,” ujarnya menenangkan.
Kami saling berpandangan, lega, haru, sekaligus bersyukur.
Benar saja, setelah diganti, mobil kembali normal seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Sayangnya, waktu sudah habis, saat itu jam di hp sudah menunjukkan hampir pukul 14.00 WIB. Kami harus merelakan undangan pernikahan itu terlewat. Sedih, tentu saja. Namun kami meyakinkan diri, silaturahmi tetap bisa dilakukan di lain waktu mengingat sang shohibul hajat kebetulan tinggal satu komplek dengan perumahan kami. (Syukur alhamdulillah sebelum postingan blog ini dipublish kami sudah berkesempatan silaturahmi ke kediamannya).
Dengan mobil yang kembali sehat, kami masih menghadapi pilihan besar, pulang atau tetap melangkah lebih jauh. Atas saran seorang teman, istriku untuk memilih pilihan kedua yaitu langsung ke pusat yaitu Jakarta. Sepertinya logis dan realistis, tidak ada opsi lain yang pas selain menerima saran teman dan menurut kami pusat adalah benteng terakhir tempat berkeluh kesah atas permasalahan yang ada di daerah.
Jujur, sejatinya hati kami
dipenuhi rasa skeptis (ragu-ragu). Jika di daerah saja tidak ada solusi, apa mungkin pusat
mau mendengar, belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk kesana tidaklah sedikit? Atau kami hanya sedang memperpanjang perjalanan tanpa kepastian? Namun satu hal yang pasti, pada prinsifnya kami tidak ingin menyerah sebelum mencoba.
Namun kami tetap berprasangka baik, dengan modal nekat, doa, dan tawakal
Bismillah, tekadku dalam hati. Pada Minggu sore, setelah istriku menyelesaikan pelatihannya, tanpa menunda waktu kami langsung tancap gas menuju Jakarta. Syukurlah, anak pertamaku sudah bisa menyetir, sehingga kami bisa bergantian mengemudi saat rasa kantuk datang.
Di sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berhenti di rest area di sepanjang ruas Tol Kota Baru–Bakauheni, kemudian manaiki kapal penyeberangan Bakauheni-Merak lalu melanjutkan perjalanan melalui Tol Merak–Jakarta. Di rest area kami manfaatkan waktu istirahat untuk salat, makan, sekaligus mengisi bahan bakar. Perjalanan terasa panjang, namun tetap lancar.
Alhamdulillah, saat tiba di Jakarta kami tidak terkena aturan ganjil-genap. Ingat sekali hari itu hari Senin tanggal 19 Januari, dan kebetulan pelat mobil kami berangka akhir ganjil, sehingga kami bisa melintas dengan tenang dan bebas di dalam kota. Hanya bermodalkan aplikasi google maps sebagai navigasi, menghantarkan kami ke tempat tujuan.
Sesampainya di sebuah kantor instansi pemerintah di Jakarta Selatan, waktu masih menunjukkan pukul enam kurang pada hari Senin pagi. Jalanan masih lengang, sementara perkantoran baru akan buka pukul 08.00 WIB.
Mobil kami sempat dihentikan di pos penjagaan pintu masuk. Setelah berbincang dengan petugas keamanan dan menyampaikan identitas serta maksud kedatangan, kami dipersilakan untuk menunggu, beristirahat dan shalat subuh di mushola yang berada di dalam kompleks perkantoran hingga kantor resmi dibuka.
Sambil beristirahat di mushola, anak-anak mengajak keluar sebentar untuk mencari sarapan di sekitar kompleks perkantoran. Pagi itu terasa tenang, seolah menjadi jeda sebelum kami kembali melangkah menyelesaikan urusan yang telah membawa kami sejauh ini.
Usai bertemu dengan pemangku kepentingan, keraguan kami perlahan runtuh dan menemui jawaban atas permasalahan. Kami justru disambut dengan pelayanan yang ramah dan solutif. Konsultasi berjalan lancar dan penanganan yang cepat dan responsif. Masalah yang berhari-hari membuat kami buntu, ternyata menemukan jalan keluar di sini. Alhamdulillah, beban itu akhirnya terangkat. Ternyata, keputusan yang terasa paling nekat itulah yang justru membuka pintu jawaban.
Anak-anak yang sejak awal setia menemani perjalanan panjang dari Liwa ke Bandar Lampung hingga Jakarta, menunggu mobil diperbaiki, menempuh jarak ratusan kilometer (hampir 1000 km) dari Liwa-Jakarta PP, beristirahat dan tidur ala kadarnya disembarang tempat di masjid rest area serta tetap sabar tanpa banyak keluhan, rasanya pantas mendapatkan sedikit imbalan atau hadiah kecil atas keteguhan mereka.
Karena kami sudah berada di Jakarta, kami pun sepakat mengajak mereka melepas lelah dan ketegangan dengan bertamasya ke SeaWorld Ancol di Jakarta Utara. Sebuah jeda sederhana, namun penuh makna, setelah perjalanan panjang yang menguji adrenalin dan kesabaran kami sekeluarga.
Hari itu kami belajar satu hal penting, terkadang mobil mogok, undangan terlewat, dan pintu-pintu yang tertutup di
daerah bukanlah kegagalan. Semua itu bisa jadi cara Allah dan campur tangan Allah memaksa kita
melangkah lebih jauh ke tempat di mana jawaban sebenarnya telah disiapkan.
🎯"Ketika rencana manusia gagal, rencana Allah SWT justru berjalan
dengan sangat sempurna".🎯
.gif)
.png)

Comments
Post a Comment
Silahkan memberikan komentar Anda disini namun seyogyanya masih dalam batas-batas etika dan norma-norma serta kaidah hukum yang berlaku. Dan sepatutnya juga tidak menyinggung pihak-pihak lain atau komentar yang berbau sara (suku, agama dan ras) dan penghinaan terhadap karakter serta nama baik seseorang. Thanks for visiting our blogs. Please comeback anytime you want. We always welcome you with arms wide open. Penulisrega