We Walk the Talk, Not Only Talk the Talk (Kita melakukan apa yang kita katakan, bukan hanya banyak bicara)

Liburan akhir tahun yang bertepatan dengan libur sekolah anak-anak selalu menjadi momen yang dinanti. Bukan hanya sebagai waktu untuk beristirahat, tetapi juga sebagai kesempatan menikmati quality time bersama keluarga, terutama untuk mendampingi anak-anak di masa liburan. Sesuatu yang selama ini sering kali hanya menjadi wacana, bahkan sekadar omon-omon.

Bukan berarti ini pertama kalinya berlibur di akhir tahun. Namun, pada praktiknya, liburan keluarga biasanya baru terlaksana setelah pergantian tahun, sementara saat malam pergantian tahun anak-anak kali ini lebih memilih untuk tetap di rumah. Tahun ini memang agak lain. Kami memutuskan untuk tidak sekadar membicarakan rencana liburan, tetapi benar-benar menjalaninya meski dengan cara yang sederhana.

We walk the talk, not only talk the talk

(baca: wi wok de tok, not only tok de tok)

Kalimat ini mungkin terdengar akrab di telinga kita, mengingatkan pada ucapan ikonik salah satu petinggi negeri yang sempat memicu riuh di ruang publik. Ada yang menjadikannya bahan candaan, namun tak sedikit yang mengapresiasinya. Di balik segala keriuhan itu, terselip sebuah prinsip fundamental bahwa kejujuran seorang pemimpin diukur dari langkah kakinya, bukan hanya dari kata-katanya."

Jika kalimat ini kita tanyakan kepada AI dari sisi struktur dan tata bahasa (grammar) tidak ada yang salah namun masih ada sedikit hal yang perlu diperbaiki. Meski begitu, makna yang disampaikan tetap kuat dan mudah dipahami. Menariknya, ungkapan (idiom) ini justru terasa sangat terkait (related) dengan perjalanan liburan akhir tahun kami kali ini.

Dari Rencana ke Langkah Nyata

Banyak dari kita terbiasa berkata, “Nanti kita liburan, ya,” namun tidak semua rencana benar-benar terwujud karena hanya di angan-angan saja. Kesibukan, keraguan, dan terlalu banyak pertimbangan sering menjadi penghalang.

Liburan akhir tahun ini kami jalani dengan cara sederhana. Tanpa perencanaan, mengalir begitu saja tanpa persiapan ekstra yang berlebihan, tanpa ekspektasi terlalu tinggi. Yang penting adalah berangkat dan menikmati prosesnya.

Karena sering kali, liburan terbaik bukan tentang destinasi mewah, tetapi tentang keberanian untuk memulai perjalanan.

Akhir tahun 2025 lalu, sebenarnya keluarga besarku dari pihak ibu, paman dan bibi semuanya  berdomisili di Bandar Lampung dan keluarga dari pihak ayah pun sama sebagian besar tinggal di Bandar Lampung dan hanya ada satu yang tinggal di Jakarta yaitu bibi (adik ayah). Tahun ini keluarga dari pihak ibu, telah merencanakan untuk berkumpul dan silahturahmi keluarga di Bandar Lampung. Kakek dan nenek, baik dari pihak ayah maupun ibuku memang sudah tiada, namun semangat untuk tetap menjaga kebersamaan silaturahmi keluarga besar masih sangat terasa. 

Anjuran menjaga silaturahim di dalam Alquran dan Hadis Nabi SAW, ada banyak suratnya di dalam Alquran, salah satunya di surat An-Nisa ayat 1: "Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim." Dan di dalam hadis Nabi Rasulullah SAW bersabda "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sayangnya, karena beberapa hal yang tidak dapat dihindari, rencana silaturahmi keluarga dari pihak ibuku yang telah dirancang jauh-jauh hari tersebut akhirnya tidak dapat terlaksana secara lengkap karena ketidakhadiran sebagian anggota keluarga besar lainnya.

Setelah rencana utama batal, ibu bersama adik bungsuku beserta anak, istrinya memilih untuk tetap berlibur ke Liwa (the show must go on), Padahal, sejak awal, niat sekeluarga besar adalah bertemu, di momen silaturahmi keluarga di Bandar Lampung.

Menikmati Perjalanan, Bukan Sekadar Tujuan

Sepanjang perjalanan, kami menyadari satu hal penting: kebahagiaan tidak selalu menunggu di tempat tujuan. Ia justru hadir di sepanjang jalan, dari obrolan ringan di dalam kendaraan, tawa kecil, hingga momen diam sambil menikmati pemandangan.

Perjalanan liburan akhir tahun ini mengajarkan kami untuk lebih pelan. Tidak terburu-buru. Tidak terpaku pada jadwal. Hanya menikmati setiap momen yang ada.

Liburan Keluarga yang Sederhana tapi Penuh Makna

Liburan bersama keluarga tidak harus selalu jauh atau mahal. Kebersamaan, waktu yang dihabiskan bersama, dan cerita yang tercipta jauh lebih bernilai daripada sekadar foto destinasi.

Dalam perjalanan ini, kami belajar bahwa kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil yang mungkin selama ini terlewatkan. 

Kebersamaan Keluarga di Danau Ranau

Danau Ranau menjadi salah satu tempat kami tuju dan menikmati suasana. Dengan latar Danau Ranau di Lumbok Seminung dan Danau Ranau yang di Banding Agung yang tenang, perbukitan hijau, serta udara sejuk momen ini kami abadikan dalam sebuah foto keluarga. Bukan soal pose yang sempurna, melainkan kebersamaan yang terasa hangat. Foto ini menjadi pengingat bahwa liburan bukan tentang destinasi mewah, tetapi tentang waktu yang benar-benar dijalani bersama keluarga.

We Walk the Talk dalam Kehidupan Sehari-hari

Makna we walk the talk tidak hanya berlaku dalam perjalanan liburan. Ia juga menjadi pengingat dalam kehidupan sehari-hari, tentang konsistensi antara ucapan dan tindakan.

Lebih baik satu langkah kecil yang benar-benar dilakukan alias NATO (No Action Talk Only), daripada banyak rencana yang hanya berhenti sebagai kata-kata.

Hari pertama kami keluarga besar kami ke Danau Ranau Kecamatan Lombok Seminung Kabupaten Lampung Barat, anak-anak menikmati liburan dengan cara mereka sendiri. Duduk di tepi danau sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya sambil mengambil momen dengan berfoto-foto. 

Hari kedua liburan, suasana mulai terasa berbeda. Jika sebelumnya ramai oleh hiruk pikuk dan canda tawa anak-anak, kini suasana mendadak berubah menjadi lebih sepi. Tinggal aku, istriku, dan kedua anakku saja.

Belum sempat rasanya melepas rindu, sayangnya ibuku bersama adik dan para keponakan tidak bisa berlama-lama di Liwa karena harus kembali ke kampung karena di sana sedang memasuki musim hajatan dan kepentingan lainnya yang tidak bisa dihindarkan. Kebersamaan keluarga besar pun sementara terhenti. Meski begitu, liburan tidak berhenti begitu saja. Kami melanjutkannya bersama keluarga kecil kami, dengan ritme yang lebih pelan dan suasana yang terasa lebih intim.

Liburan ini mungkin tidak sempurna seperti yang direncanakan sejak awal. Tidak semua keluarga bisa berkumpul sampai akhir, tidak ada agenda besar atau destinasi mewah. Namun justru di situlah kami menemukan maknanya. Di tengah perjalanan sederhana, di tepi Danau Ranau yang tenang, kami belajar bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk paling sederhana, kebersamaan, waktu yang diluangkan, dan kehadiran yang utuh.

Danau Ranau, di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan, menjadi tujuan kami hari itu. Sejak pagi dari rumah, anak-anak sudah menyiapkan alat pancing sederhana mereka. Di tepi danau yang tenang, mereka duduk berdampingan, memegang pancing dengan penuh harap. Ada tawa kecil saat pelampung bergerak, ada rasa penasaran ketika umpan diangkat kembali tanpa hasil, namun tidak ada raut kecewa. Semua dijalani dengan senang hati.

Mungkin aktivitas memancing ini terlihat sederhana, bahkan sepele. Namun justru di situlah makna liburan terasa paling utuh. Kami benar-benar hadir bersama anak-anak, menemani, mendengar cerita mereka, dan menikmati waktu tanpa tergesa. Rencana yang selama ini sering hanya diucapkan, akhirnya benar-benar dijalani. Inilah wujud kecil dari we walk the talk: bukan sekadar berbicara tentang kebersamaan, tetapi sungguh-sungguh meluangkan waktu dan menjalaninya bersama.

Liburan akhir tahun ini menjadi pengingat bagi kami bahwa we walk the talk bukan sekadar kalimat, tetapi pilihan. Pilihan untuk benar-benar hadir bagi keluarga, menemani anak-anak tumbuh, dan menciptakan kenangan yang kelak akan selalu mereka ingat dan kenang. Mungkin foto-foto akan tersimpan di galeri, cerita akan tertulis di blog, tetapi yang paling berharga adalah rasa hangat yang tinggal di hati, bahwa liburan ini benar-benar kami jalani, bersama.

Liburan akhir tahun dalam rangka silaturahmi keluarga ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan pelajaran berharga, pesan moralnya bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita rencanakan, melainkan seberapa berani kita melangkah.

Karena pada akhirnya, yang akan kita ingat bukan kata-kata yang pernah kita ucapkan, melainkan perjalanan yang benar-benar kita jalani. 

We walk the talk, not only talk the talk😀🎆🔭🙏🙏🙏





Comments

Popular posts from this blog

Kisah Perjalanan Mudik Lebaran by rega

Tips Menghilangkan Rasa Pahit pada Daun Pepaya Ala Orang Tua Zaman Dahulu (Zadul)

Mencari Ridho Allah SWT vs Mencari Ridho Manusia

JAUHILAH KEBIASAAN MENGUMPAT ATAU MENGGUNJING

Akhir Hayat Manusia Ditentukan Oleh Kebiasaannya

PERINGATAN ISRO’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW DI TPA AL-BAROKAH

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Lampung Barat periode 2012-2017

Muli Mekhanai dan Duta Kopi Lampung Barat 2015