-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

AKIBAT KURANG PERSIAPAN (EXTEMPORANEOUS)

Sunday, 25 December 2011 | December 25, 2011 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-06T14:49:16Z

Menelan Keringat Dingin di Atas Panggung: Pelajaran Berharga dari Sebuah Doa yang Tertukar

Sungguh, peristiwa itu tidak pernah kulupa dan akan terus kujadikan iktibar (pelajaran) berharga dalam hidup ini. Kejadiannya bermula ketika aku ditawari oleh rekan kerja untuk menjadi pembaca doa dalam sebuah kegiatan resmi di kantor.

Maklumlah, rekan kerjanya yang biasanya menjadi spesialis pembaca doa kebetulan sedang berhalangan hadir. Sementara itu, cadangan pembaca doa lainnya di kantor sedang sibuk dengan tugas mendesak masing-masing. Praktis, tak ada pilihan lain selain menerima tawaran insidental tersebut, demi menghargai sang rekan yang selama ini banyak membantuku dalam urusan pekerjaan.

Walau dengan berat hati, akhirnya kuterima juga tawaran itu. Jujur harus kuakui, aku sama sekali tidak memiliki keahlian maupun pengalaman dalam urusan memimpin doa di muka umum. Kalau bukan karena rasa segan dan hutang budi kepada teman, tentulah tawaran itu kutolak mentah-mentah.

Sambil mengiyakan, benakku sempat berpikir untuk berupaya keras mencari orang lain yang lebih tepat guna menggantikannya. Segera setelah menerima tawaran tersebut, aku bergegas mencari kandidat pengganti. Tak butuh waktu lama, aku berhasil menghubungi seseorang yang biasa bertugas membaca doa. Sayang sekali, ia terpaksa menolak karena sedang dibebani tugas penting oleh atasannya yang harus diselesaikan siang itu juga.

Aku tidak menyerah begitu saja. Aku mencari ke sana ke mari, dari satu ruangan kantor ke ruangan lainnya, namun orang yang dicari tak kunjung bersua.

Setelah lelah berkeliling dan hasilnya nihil, aku sadar tidak ada pilihan lain. Dengan terpaksa dan bermodalkan nekat tanpa persiapan yang matang (extemporaneous), aku memberanikan diri untuk mengemban tugas mulia tersebut. Segera aku mencari buku-buku doa yang relevan dengan acara nanti. Untungnya, urusan mencari buku ini tidak mengalami kendala berarti.

Namun, sejatinya di relung hatiku yang paling dalam, masih ada ganjalan berupa keraguan yang mendalam: apakah aku mampu?

Naluri intuisiku terus berbisik agar menolak. Pasalnya, acara tersebut akan dihadiri oleh para pejabat tinggi kantor. Tentu sangat memalukan jika tampil pas-pasan tanpa persiapan yang matang, apalagi penunjukan ini dilakukan secara mendadak—hanya dua jam sebelum acara dimulai. Ditambah lagi, aku memiliki sindrom kurang percaya diri dan demam panggung yang hebat setiap kali harus berbicara di depan khalayak ramai. Kendati demikian, apa boleh buat? Nasib telah memutuskan, tidak ada jalan lain selain maju.

Insiden di Atas Panggung

Ketika acara dimulai dan giliranku dipanggil oleh pembawa acara (MC) untuk membacakan doa pembukaan, awalnya aku masih merasa cukup tenang dan percaya diri (PD). Namun, di tengah-tengah pembacaan, kejanggalan mulai terasa. Aku mendadak tersadar ada yang salah dengan doa yang kubaca.

Ternyata, buku doa yang kupersiapkan dari rumah tertukar dengan buku kumpulan doa lain yang sampulnya mirip dan nyaris kembar!

Dalam benakku, doa pembuka seharusnya singkat dan padat. Tapi mengapa kali ini bacaannya terasa begitu panjang dan tak kunjung usai? Sontak, paniklah aku seketika. Rasanya, bumi yang kupijak mendadak menjadi sesak. Boro-boro ingin berimprovisasi, raut mukaku berubah menjadi merah padam. Panik, kesal, jengkel, marah, dan malu bercampur aduk. Nyaris saja aku kehilangan kendali diri hingga keringat dingin mengucur deras dari dahi, menandakan detak jantungku berdegup kencang tak beraturan. Untung saja aku tidak sampai jatuh pingsan.

Tanpa berpikir panjang dan di luar kendaliku, aku memutuskan untuk menyudahi pembacaan doa tersebut di tengah jalan. Betapa tidak, doa yang kubaca sudah melenceng jauh dan sama sekali tidak ada relevansinya dengan acara yang sedang berlangsung.

Setelah situasi mereda, barulah aku menyadari bahwa buku doa yang kubawa memang tertukar dengan buku lain yang bersampul identik, namun memiliki isi yang berbeda. Parahnya lagi, karena terlalu panik, aku bahkan lupa menutup pembacaan doa dengan salam penutup! Akibat kurangnya persiapan yang matang, jalannya acara pun sempat berantakan.

Semoga saja pengalaman pahit ini menjadi iktibar dan hikmah tersendiri bagiku, serta menjadi pengingat agar selalu bersiap diri dalam situasi apa pun. Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni kesalahan dan kekhilafanku. Aamiin.

×
Berita Terbaru Update