-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

PENGALAMAN TERBANG YANG MENDEBARKAN

Monday, 11 December 2017 | December 11, 2017 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-22T08:29:43Z

TRUE AND REAL STORY, DIARY ROAD TO BATAM

Ingatan itu masih sangat segar, bahkan terasa nyata saat aku menuliskan ini. Pengalaman terbang di tengah cuaca buruk beberapa tahun lalu benar-benar meninggalkan trauma tersendiri. Sungguh, aku berharap kejadian mendebarkan seperti itu tidak perlu terulang kembali. Namun, bukan berarti aku lantas kapok atau takut untuk terbang lagi, terutama jika ada tugas dinas yang menanti di masa depan.

Kejadian itu bermula pada Jumat siang, 8 Desember 2017. Saat itu, aku dan dua rekan dari Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah bersiap untuk pulang ke Lampung setelah menyelesaikan tugas kedinasan dari Kementerian di Batam. Setibanya di bandara, rombongan kami bertambah menjadi sembilan orang; bergabung rekan-rekan dari Kabupaten Lampung Selatan dan utusan dari provinsi.

Sejujurnya, kami sudah memesan tiket pulang-pergi (PP) jauh-jauh hari. Kekhawatiran akan kehabisan tiket di hari penutupan acara mengingat banyaknya peserta dari wilayah Sumatera dan Jawa yang dikhawatirkan akan memicu full booking menjadi alasan utamanya. Namun, ternyata kekhawatiran aku hanyalah ketakutan yang berlebihan. Kenyataannya, panitia justru banyak menawarkan bantuan tiket pulang bagi para peserta, bahkan informasi tersebut tertulis jelas di meja panitia.

INSIDEN DITENGAH PENDARATAN PESAWAT MENGALAMI TURBULENCE

Menurut jadwal, pesawat kami seharusnya lepas landas dari Bandara Internasional Hang Nadim pukul 11.00 WIB dan tiba di Bandara Radin Inten II (dulu Branti) dalam waktu sekitar 1 jam 7 menit. Namun, perjalanan hari itu tidak berjalan mulus. Keberangkatan kami tertunda menjadi pukul 13.40 WIB, dan alih-alih tiba pukul 14.47 WIB, kami baru menyentuh landasan pada pukul 15.50 WIB—mengalami keterlambatan lebih dari satu jam.

Rupanya, penundaan itu belum seberapa dibandingkan pengalaman saat akan mendarat. Cuaca buruk memaksa pesawat melakukan go-around atau gagal mendarat sebanyak dua kali. Adrenalin kami terpacu hebat, jantung berdegup kencang, bahkan rasanya seperti mau copot. Alhamdulillah, percobaan ketiga akhirnya berhasil. Pesawat mendarat dengan selamat, dan seluruh penumpang dalam keadaan aman.

Kejadian itu bermula dari pagi hari di hotel. Setelah acara penutupan selesai sekitar pukul 09.00 WIB, kami memiliki jeda waktu dua jam sebelum menuju bandara—perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu 30 menit. Kami pun bergegas kembali ke kamar untuk berkemas. Pakaian kotor dan oleh-oleh yang tadinya berantakan segera kami susun rapi ke dalam travel bag dan kardus tambahan.

Setelah urusan berkemas selesai, kami memesan taksi melalui layanan informasi hotel. Di sana tidak sulit menemukan kendaraan; banyak tersedia taksi, bus bandara, hingga agen travel. Tak lama kemudian, mobil yang menjemput kami pun tiba.

Sebenarnya, total rombongan kami dari Lampung berjumlah sembilan orang—enam dari kabupaten/kota dan tiga dari provinsi. Namun, selama menginap di Harmony One Hotel, kelompok kami terbagi secara alami. Aku dan empat rekan lainnya (total lima orang) selalu bersama karena posisi kamar yang berdekatan, sementara yang lain terpencar di kamar yang ditentukan panitia.

Perbedaan rencana terjadi saat hari kepulangan. Dua rekan kami memutuskan untuk melancong sejenak ke Singapura—yang bisa ditempuh hanya dalam 45 menit menggunakan speedboat. Sementara itu, aku dan dua rekan lainnya tetap pada rencana awal: langsung kembali ke Lampung setelah tugas dinas selesai.

"Di Balik Awan yang Menguji Nyali"

PESAWAT TERASA SEAKAN-AKAN MENGHUJAM (TERJUN BEBAS) KE BUMI 
Siang itu, cuaca di Batam tampak bersahabat. Matahari bersinar cukup terik dan hanya ada sedikit awan di langit; suhu di ponselku menunjukkan 25 derajat Celsius. Kondisi yang tampak ideal untuk terbang. Namun, siapa sangka, satu jam setelah lepas landas dari Bandara Internasional Hang Nadim, suasana berubah drastis. Saat pesawat bersiap mendarat di Bandara Radin Inten II, pilot mengumumkan bahwa cuaca di lokasi tujuan sangat buruk.

Melalui interkom, kru pesawat menginformasikan bahwa pendaratan belum memungkinkan karena hujan deras dan awan tebal. Kami diminta menunggu selama 10 hingga 15 menit sembari menunggu izin dari Air Traffic Control (ATC). Jika dalam waktu tersebut cuaca tidak membaik, pilot memberi opsi yang membuat nyali ciut: pesawat akan dialihkan mendarat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Saat pesawat mencoba mendekati landasan, drama pun dimulai. Pesawat bergumul menembus awan tebal—entah itu awan Cumulonimbus atau bukan, aku tidak tahu persis. Setelah sempat menanjak untuk menghindari gumpalan awan, turbulensi hebat pun terjadi.

Awalnya, kami menganggap guncangan ini biasa, layaknya mobil yang melewati jalan berlubang. Beberapa penumpang bahkan masih bisa tertawa dan bercanda. Namun, suasana berubah total saat turbulensi semakin kuat. Pesawat terasa limbung, seolah-olah pilot kesulitan mengendalikan kemudi. Dalam hati, pikiran buruk mulai berkecamuk; membayangkan pesawat akan terjun bebas dari ketinggian ribuan meter.

Kebetulan, kursi di sebelah aku kosong. Karena guncangan yang begitu keras, seorang pramugari yang tadinya berkeliling mengecek sabuk pengaman penumpang segera duduk di samping aku dengan sigap. Ia memasang sabuk pengamannya dengan terburu-buru. Teman ku sempat bertanya dengan suara bergetar, "Mbak, apakah kejadian seperti ini sering terjadi?"
Dengan raut wajah yang tampak jelas menyimpan panik, pramugari itu menjawab singkat, "Baru kali ini, Pak."

Perasaan saat itu persis seperti menaiki rollercoaster yang ekstrem; saat pesawat turun mendadak, rasanya jantung seakan hendak copot, lalu kembali naik dengan hentakan yang kasar. Ketegangan memuncak saat turbulensi kedua datang jauh lebih keras dari yang pertama. Seisi kabin hening, penumpang dilanda shock. Kami semua, tak terkecuali aku, hanya bisa memejamkan mata dan memanjatkan doa demi keselamatan bersama.











"Pasrah di Atas Awan"

Mungkin aku terlihat yang paling panik, meski sebisa mungkin aku berusaha menyembunyikannya. Dalam situasi kritis seperti itu, tidak ada pilihan lain selain berpasrah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta penentu hidup dan mati. Tak henti-hentinya bibir ini melafalkan doa dan istighfar, sebuah ikhtiar batin di tengah guncangan yang tak kunjung reda. Teman di sebelah aku pun melakukan hal yang sama; kami saling menguatkan dalam diam.

Setelah beberapa kali gagal mendarat dan dihantam turbulensi beruntun, pilot akhirnya memutuskan untuk membatalkan pendaratan dan membawa pesawat naik kembali ke ketinggian. Beruntung, setelah mencapai posisi yang lebih stabil, guncangan perlahan mereda. Pesawat berhasil keluar dari jebakan awan tebal tersebut.

Sesaat kemudian, pemandangan di luar jendela berubah drastis. Lapisan awan yang tadinya kelabu kini disapu warna oranye keemasan dari sunset yang mulai memancar. Sinar matahari menembus masuk ke dalam kabin, membawa secercah kehangatan setelah ketegangan yang menyesakkan. Namun, setiap kali pesawat kembali memotong sisa-sisa awan, cahaya itu sesekali terhalang, membuat kabin kembali meredup. Kontras antara cahaya dan bayangan itu seolah menjadi gambaran nyata betapa tipisnya batas antara rasa takut dan harapan kami saat itu.













"Tiba dengan Selamat"

Pesawat kemudian terbang dengan stabil, menjauh dari awan tebal dan berputar arah menuju kawasan Pelabuhan Bakauheni. Dari balik jendela, aku bisa melihat dermaga pelabuhan itu dengan jelas di bawah sana. Selama kurang lebih satu jam, kami terus berputar-putar di angkasa, menunggu instruksi selanjutnya dari menara ATC Bandara Radin Inten II terkait kondisi cuaca.

Alhamdulillah, saat percobaan pendaratan kedua dilakukan, hasilnya jauh lebih baik. Meski sempat merasakan beberapa kali turbulensi, pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan mulus. Ketangguhan pilot, ko-pilot, serta seluruh kru pesawat dalam mengendalikan situasi benar-benar patut diapresiasi. Guncangan yang perlahan mereda membuat suasana kabin yang tadinya tegang mulai mencair.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, aku hanya bisa memanjatkan syukur dalam hati, "Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih telah menyelamatkan kami." Kalimat syukur itu terus terucap tanpa henti.

Suasana di dalam kabin pun berangsur berubah. Wajah para penumpang yang tadinya pucat pasi mulai menunjukkan kelegaan. Namun, bagi sebagian orang, rasa takut yang tertahan akhirnya pecah. Tepat di kursi belakang aku, dua penumpang wanita tampak menangis terisak karena masih shock. Rekan-rekan mereka mencoba menenangkan, sementara aku sendiri masih berusaha menata napas dan fokus pada rasa syukur yang membuncah. Di tengah kepanikan luar biasa yang baru saja kami lalui, akhirnya kami tiba di daratan dengan selamat.


Selesai







×
Berita Terbaru Update