-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Cahaya di Tengah Gemerlap: Kisah Seorang Anak Muda yang Tetap Teguh di Jalan-Nya

Thursday, 30 July 2026 | July 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T12:25:53Z

Cahaya di Tengah Gemerlap: Kisah Seorang Anak Muda yang Tetap Teguh di Jalan-Nya

Sebuah cerita islami untuk renungan kita bersama


Kota yang Tak Pernah Tidur

Rasyid baru saja pindah ke kota besar untuk melanjutkan kuliah. Kota itu gemerlap sepanjang malam, lampu neon berkedip di setiap sudut, kafe-kafe mewah selalu ramai, dan gaya hidup serba instan menjadi standar pergaulan. Teman-teman kosnya sering berkata, "Hidup cuma sekali, nikmati saja selagi muda."

Awalnya Rasyid merasa asing. Ia dibesarkan di kampung kecil, tempat suara azan masih terdengar jelas lima kali sehari dan ibunya selalu berpesan, "Nak, dunia ini cuma persinggahan. Jangan sampai kau lupa jalan pulang."

Namun kota besar punya cara sendiri untuk menggoda. Ajakan nongkrong sampai larut, gaya hidup konsumtif yang dipamerkan di media sosial, hingga pergaulan bebas yang dianggap wajar, semua itu perlahan mengepung kehidupan Rasyid.

Ujian yang Datang Bertubi-tubi

Suatu malam, salah satu teman sekelasnya, Bimo, mengajaknya ke sebuah pesta. "Cuma sekali ini, Sid. Biar kau nggak dibilang kuper," katanya sambil tertawa.

Rasyid sempat tergoda. Ia melihat teman-temannya tampak bahagia, hidup mereka penuh warna, setidaknya begitu yang terlihat di permukaan. Tapi ada suara kecil dalam hatinya yang terus mengingatkan pesan ibunya, dan ayat yang pernah ia hafal:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qasas: 77)

Malam itu Rasyid memilih pulang. Ia menutup pintu kosnya, mengambil air wudu, dan menunaikan shalat Isya sendirian di kamar sempitnya. Air matanya menetes bukan karena sedih, tapi karena lega telah memilih jalan yang benar meski terasa sepi.

Sepi yang Berbuah Manis

Hari-hari berikutnya tidak mudah. Rasyid sering diejek sebagai "anak kolot" atau "sok suci". Ia kehilangan beberapa teman yang menganggapnya tidak asyik diajak bergaul. Tapi ia tidak goyah. Ia mulai rutin mengikuti kajian kecil di masjid kampus, berkenalan dengan orang-orang yang punya semangat yang sama: ingin hidup lurus di tengah dunia yang serba menyimpang.

Dari situ, ia bertemu Pak Ustadz Hilmi, seorang dosen yang juga mengisi kajian. Suatu hari Pak Hilmi berkata kepadanya:

"Rasyid, dunia ini seperti bayang-bayang. Kalau kau kejar, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya untuk mengejar Allah, bayang-bayang itu justru akan mengikutimu."

Kata-kata itu menghunjam dalam. Rasyid semakin yakin bahwa kesenangan dunia yang fana tidak sebanding dengan ketenangan hati yang ia rasakan setiap kali dekat dengan Allah.

Ketika Ujian Semakin Berat

Dua tahun berlalu. Rasyid mulai dikenal sebagai pribadi yang santun dan disiplin dalam ibadahnya. Namun ujian besar datang: seorang teman dekat mengajaknya bergabung dalam bisnis yang menggiurkan, tapi penuh unsur riba dan cara-cara yang tidak jujur. Keuntungannya besar, katanya, cukup untuk membuat Rasyid hidup mewah dalam waktu singkat.

Rasyid bimbang. Ia teringat kondisi orang tuanya yang sederhana, dan godaan untuk segera "sukses" begitu kuat. Tapi ia kembali merenungi firman Allah:

"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2-3)

Ia menolak tawaran itu dengan sopan, meski harus kehilangan peluang besar. Anehnya, tidak lama setelah itu, ia justru mendapat tawaran magang di sebuah lembaga yang jujur dan penuh berkah, jalan yang datang justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Hikmah yang Dipetik

Bertahun-tahun kemudian, Rasyid tumbuh menjadi pribadi yang disegani, bukan karena harta melimpah, tapi karena keteguhan hatinya. Ia sering berbagi cerita kepada adik-adik tingkatnya:

"Dunia ini penuh gemerlap, tapi semuanya fana. Yang abadi hanya amal dan keimanan kita. Godaan akan selalu datang, tapi selama kita berpegang pada tali Allah, badai sederas apa pun tidak akan menenggelamkan kita."


Renungan untuk Kita Semua

Kisah Rasyid mengajarkan beberapa hal penting bagi kita yang hidup di tengah zaman yang serba hedonis:

  1. Dunia adalah ujian, bukan tujuan akhir. Kesenangan sesaat tidak boleh membuat kita lupa pada kehidupan akhirat yang kekal.
  2. Istiqamah butuh perjuangan. Menjadi berbeda di tengah arus yang salah memang tidak mudah, tapi di situlah nilai keimanan diuji.
  3. Lingkungan yang baik adalah penolong. Berkumpul dengan orang-orang shalih membantu kita tetap teguh di jalan yang benar.
  4. Allah selalu menyediakan jalan keluar bagi siapa pun yang bertakwa dan bersabar menghadapi godaan dunia.
  5. Kesepian dalam kebaikan lebih baik daripada ramai dalam kesesatan.

Semoga kisah sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di tengah badai kehidupan yang serba menggoda, selalu ada cahaya bagi mereka yang mau berpegang teguh pada-Nya.

Wallahu a'lam bishawab.

×
Berita Terbaru Update