burung

Tuesday, 14 February 2017

Kelembutan Pasir Pantai Padang Muaro Lasak dan Pantai Air Manis nan Mempesona

Diary : travels to Padang

Kalau kita mendengar Kota Padang pastilah terlintas pertama kali di angan-angan kita adalah cerita Malin Kundang sianak durhaka atau Siti Nurbaya yang sudah sangat melegenda sementara kulinernya pastilah yang sudah cukup familiar adalah rendang padang yang tersohor hingga ke mancanegara karena ditetapkan sebagai makanan dengan cita rasa terenak atau terlezat di dunia seperti dilansir VIVAnews berdasarkan survei para pemerhati stasiun berita CNN, yang dimuat di laman CNNGo.

Padang memang salah satu destinasi wisata yang sangat menarik di negeri ini. Tak hanya dikenal sebagai surga wisata kuliner dengan label “halalnya”, wisata belanja, dan wisata sejarah serta budayanya saja, ternyata Padang menyimpan sejuta pesona dengan wisata alamnya yang memikat hati pelancong tak ayal banyak wisatawan banyak berburu keindahan alam khas bumi Minang Kabau ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama-sama teman-teman dari kabupaten di propinsi ini berkesempatan mengunjungi Kota Padang Sumatera Barat dalam rangka dinas. Senang sekali rasanya karena punya kesempatan untuk berkunjung kesana. Tergelitik rasa ingin tahu saya seperti apa suasana serta keindahan alam di kota itu. Kota yang katanya memiliki beragam cerita rakyat dengan eksotisme keindahan alamnya.

Namun sayangnya kali ini saya tidak memiliki banyak kesempatan mengingat keterbatasan waktu sehingga tidak banyak tempat yang dapat kami kunjungi, hanya tempat-tempat yang tak jauh dari jangkauan tempat kami menginap di kota ini saja. Padahal sejatinya banyak destinasi yang terkenal misal Jembatan Layang Kelok Sembilan yang berada 30 km dari Kota Padang, tepatnya berada di luar Kota Padang. Kemudian Jam Gadang di Bukit Tinggi yang merupakan ciri khas sekaligus landmark propinsi ini namun letaknya berada jauh dari kota Padang yaitu di Payakumbuh Sumbar ke arah Kota Pakanbaru Propinsi Riau dan masih banyak lagi tempat wisata alam dan pantai yang ada disana namun semuanya tidak sempat kami kunjungi.

Sebagai informasi bagi pelancong pemula, bila kita dari Liwa Lampung Barat, kita bisa naik pesawat dari Bandara Internasional Raden Intan Branti Lampung Selatan menuju Bandara Minangkabau Padang atau bilan menggunakan jalur darat bisa lewat lintas timur maupun lintas barat Sumatera. Sementara jika kita naik moda transportasi udara, setelah landing di Bandara Internasional Minang Kabau, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan mobil karena disana banyak menawarkan jasa rental baik taxi sedan maupun kendaraan minibus lainnya yang siap mengantar ke tempat tujuan Anda.

Nah, kembali ke cerita, setibanya kami di Bandara Internasional Minangkabau, kami memutuskan untuk segera menuju hotel terlebih dahulu, dari bandara ke pusat Kota Padang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Kami istirahat sejenak untuk mandi dan makan setelah itu kemudian malamnya dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan acara. Beberapa hari mengikuti kegiatan disana tak terasa waktu kepulangan telah tiba. Saat check out dari hotel, dengan waktu yang ada kami sempatkan untuk mengunjungi tempat wisata walau waktu tidak begitu banyak hanya berkisar setengah hari saja karena tiket pulang sudah terlanjur dibooking PP (pulang pergi). Lokasi destinasi rekreasi yang kami pilih adalah yang tak jauh dari Kota Padang yang kira-kira masih terjangkau dengan waktu yang kami miliki. Cukup beralasan karena kami harus berpacu dengan waktu pasalnya siangnya harinya sekitar pukul 14.00 WIB sesuai jadwal penerbangan kami rombongan segera take off menuju Bandar Lampung setelah transit dahulu di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Air Manis, dari hotel tempat kami menginap ke pantai Air Manis kira-kira 2 jam perjalanan. Di Pantai itu menurut legenda Malin Kundang si anak durhaka dikutuk Ibunya menjadi batu. Tak jauh dari tempat tersebut ada pelabuhan yang cukup terkenal namanya yaitu Dermaga Teluk Bayur yang merupakan pelabuhan peti kemas. Selain lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Padang juga pemandangannya cukup asri. Pantai ini berhamparan pasir putih yang lembut membentang ratusan meter. Air lautnya memiliki gradasi warna hijau kebiruan yang sangat indah. Puas mengeksplorasi keindahan alam disana kami, sekalian pulang menuju bandara kami sempatkan singgah sebentar di Pantai Muara Lasak. Pantai Muara Lasak merupakan tujuan kami kedua, tlempat ini merupakan salah satu tujuan wisata favorit warga Kota Padang dan sekitarnya. Taman ini merupakan salah satu taman berada di Kota Padang. Disana ada Monumen Merpati Perdamaian yang berdiri megah yang diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 12 April 2016 tahun lalu. Taman Muaro Lasak didirikan oleh Pemerintah Kota Padang pada akhir tahun 2013, tepatnya berada di Jalan Samudera, Pantai Purus.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, segera kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang. Rasanya waktu begitu cepat sudah sekitar 2 jam-an lebih kami berada disana, belum cukup rasanya mengeksplorasi tempat-tempat wisata yang ada disana namu jam tangan telah menunjukkan pukul 12.30 WIB, suara azan telah memanggil kami untuk menunaikan shalat. Usai shalat, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju Bandara Internasional Minangkabau yang memakan waktu setengah jam perjalanan usai puas berfoto-foto ria disana. Tamat

“Kisah Malin Kundang”

Kisah ini saya dapatkan yang sumbernya berasal dari selebaran kertas yang saya beli berisikan kisah si Malin Kundang yang saya dapatkan dari pedagang disana. Kertas tersebut bentuknya semacam brosur berisikan “Kisah Si Malin Kundang.” Kertas tersebut disertai beberapa foto-foto batu Malin Kundang, dijual seharga dua puluh ribu rupiah saja. Sayangnya nama pengarang tidak tertera di kertas tersebut, berisikan ilustrasi kisah si Malin Kundang. Kisah ini saya tulis kembali, tidak saya edit sedikitpun yang ingin saya share di blog ini karena cukup menginspirasi agar menjadi pelajaran bagi anak cucu kita dikemudian hari, kisahnya seperti ini :

Pada zaman dahulu disebuah desa di tepi pantai Sumatera Barat, tinggalah seorang Janda dengan Putranya bernama Malin Kundang. Dinamakan Malin Kundang karena sewaktu kecil anak itu selalu dibawa oleh ibunya di dalam sebuah gendongan yang terpasang di badannya, mencari kayu bakar di hutan. Oleh karena selalu digendong maka teman-temannya Malin Kundang memberinya gelar “Kundang” yang berarti “Yang Digendong”.

Setelah besar Malin Kundang merantau menyeberang laut, ke sebuah kerajaan di negeri yang zaman sekarang dikenal sebagai Malaysia. Sesampai disitu Malin Kundang melamar dan diterima sebagai prajurit kerajaan. Karena kehebatan dan kepandaian sifat serta keberaniannya dalam peperangan Malin akhirnya menarik perhatian sang raja yang kemudian mengangkat Malin Kundang menjadi Panglima Perang. Tidak lama setelah menjadi Panglima Perang Sang Raja menjodohkan Putrinya dengan Malin Kundang. Beberapa waktu sesudah menikah sang Putri Raja mengajak Suaminya Malin Kundang untuk pergi ke kampung halamannya.

Setelah berlayar mengarungi samudera yang luas, akhirnya kapal Malin Kundang dan istrinya merapat di Muara Padang. Dari mulut ke mulut tersebar kabar kedatangan kapal besar Panglima Malin Kundang dan Putri Raja. Berita itu sampai juga kedengarana oleh Ibunya yang langsung menuju pelabuhan dengan sangat gembira, karena ingin bertemu anaknya. Setelah sampai di dermaga Ibu Malin Kundang bertanya kepada anak kapal yang menjaga dermaga “Apakah Panglima di dalam kapal benar bernama Malin Kundang?”. Dan yang telah lama merantau dan bernama Malin Kundang. Setelah mendengar pengakuan sang Ibu, anak kapal itu pergi menemui Panglima Malin Kundang.

Tetapi dari dalam kapal Malin Kundang sudah melihat Ibu renta yang pakaiannya sudah berumur dan lusuh, sebelum menerima laporan dari anak buahnya bahwa ada seorang Ibu yang mengaku sebagai Ibunya dan ingin menemuinya. Malin Kundang turun beserta istrinya, tetapi sesampai ke dermaga Malin Kundang tidak mau mengakui sang Ibu yang langsung kenal sebagai Ibunya sendiri. Karena malu terhadap istrinya. Meskipun Ibunya dapat menunjukkan ciri khas yang tersembunyi di badan anaknya berupa “Tahi Lalat” sebesar uang logam. Malin Kundang bersifat keras dan tidak mau mengakui Ibunya. Setelah istrinya mendengarkan kata dari sang Ibu menyingkap baju suaminya. Ternyata terlihat ciri tersebut di tubuh suaminya dan sang istri berkata “ Kalau ini memang Ibu suamiku, kami menerima Dia”. Tetapi Malin Kundang dengan sombongnya tetap menolak untuk mengakui Ibu dirinya. Maka dicaci maki dan ditendang dan akhirnya disuruh anak buahnya untuk mengusir dan menyeret orang tua tersebut.

Meneriam prilaku sekejam itu oleh anaknya sendiri, Ibu Malin Kundang pulang dengan sakit hati sambil berdoa kepada Tuhan dan menyumpahi Malin Kundang menjadi batu sekeras hatinya. Pada waktu yang sama kapal Malin Kundang yang telah meninggal Muara Padang dan tengah berlayar menuju negeri asalnya, tiba-tiba diterjang badai yang dahsyat dengan angin yang amat kencang dan ombak besar. Istri Malin Kundang beserta anak kapal terhempas ombak dan dibawa arus tetapi Malin Kundang beserta anak kapal terhempas ombak dan dibawa arus tetapi Malin Kundang bertahan di atas kapal yang kemudian karam di tepi pantai, dimana tubuh Malin Kundang beku menjadi batu bersama kapal dan barang........yang sampai masa kini masih ada dan dapat dilihat di Pantai Air Manis (Air Manis Beach). Tamat

Tuesday, 31 January 2017

Sepeda Sehat dalam rangka "Tour D’ Suoh"

Sepeda sehat yang dikemas dalam rangka “Tour De Suoh” (28/1/2017) hari Sabtu beberapa waktu lalu berlangsung cukup meriah terbukti animo masyarakat cukup antusias mengikuti acara tersebut, setidaknya ada ratusan bahkan perkiraan mungkin mencapai seribuan peserta turut berpartisipasi aktif mengikuti acara itu. Para peserta berasal dari masyarakat umum, anak-anak sekolah mulai dari sd, smp hingga sma serta para pegawai pemda Lampung Barat baik dari unsur pegawai fungsional guru maupun pegawai struktural turut meramaikan dan memeriahkan acara tersebut. Acara yang dilepas oleh Bapak Bupati Lampung Barat mengambil start dari Kantor Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS) dan finish di Kantor Kecamatan Suoh.

javascript:void(0);

Baik yang pemula, amatir hingga mungkin ada yang profesional tumpah ruah dalam hajat sepeda sehat yang dikemas dalam tour d’ Suoh. Panitia menyediakan door prize yang cukup menarik berupa sepeda gunung, tv, mesin cuci serta puluhan hadiah hiburan lainnya.

Dalam sambutannya Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, MM. mengucapkan terimakasih atas sambutan warga di 2 kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Suoh dan Kecamatan BNS yang begitu antusias berpartisipasi dalam acara sepeda santai tour de suoh. Kegiatan ini dalam rangka memasyaratkan sepeda mengolahragakan masyarakat dengan cara memasyarakatkan olah raga bersepeda karena menurut Bapak Bupati merupakan salah satu transportasi yang paling cocok dengan kondisi masyarakat yang ada di Suoh dan BNS. Disamping itu juga dalam rangka mengurangi kecelakaan di jalan oleh karenanya tepat hari ini kita mencanangkan naik sepeda santai dalam rangka mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga sepeda untuk warga Suoh dan BNS. Dengan bersepeda kita telah mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh kelalain dan kekurang hati-hatian dalam dalam berkendara khsusus sepeda motor karena kebanyakan anak-anak sekolah dewasa ini lebih cenderung menggunakan motor ketimbang sepeda namun masih disayangkan banyak yang belum memiliki SIM.

Bupati beserta jajarannya sedang berupaya dan berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan membangun Suoh agar sejajar dengan kecamatan lainnya yang ada di Lampung Barat dengan jalan membangun infrstruktur jalan dan jembatan yang menghubungkan Suoh dan Sukabumi akan dituntaskan pembangunannya pada tahun ini, dengan menggelontorkan dana miliaran rupiah.

Ditambahkannya bulan Februari ini Insyallah jika tidak ada halangan, hambatan serta rintangan PLN akan masuk diharapkan lebaran tahun ini sudah teraliri listrik. Bapak Bupati menginginkan agar pemasangan tiang listrik, warga tidak meminta ganti rugi dan warga tidak menghambat terkait pemasangan tiang PLN di lahan warga. Sehingga lebaran tahun ini harapan masyarakat sudah dapat menikmati penerangan dapat terwujud, ungkapnya mengakhiri sambutan seraya melepas peserta lomba.

Catatan Kecil Perjalanan Menuju Lokasi

Jauh sebelum acara dimulai, rombongan mulai kumpul di Sukabumi sejak subuh sebelum jam 06.00 WIB sudah ramai. Saya beserta teman dari Liwa, usai shalat Subuh langsung bergegas menuju titik kumpul di pekon tersebut karena sesuai arahan pimpinan berkumpul disana sekaligus serapan pagi yang telah disediakan pihak panitia. Bahkan ada yang sudah berangkat sehari sebelum acara dimulai, mereka rela menginap disana demi suksesnya acara tersebut. Touring sepeda merupakan sebuah aktivitas yang membutuhkan kekuatan fisik yang prima, jenis olah raga ini memerlukan persiapan khusus.

Selanjutnya kira-kira jam 06.00 WIB usai sarapan, rombongan peserta mulai diangkut oleh armada kendaraan roda empat yang telah disediakan pihak panitia dalam hal ini Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Lampung Barat untuk membawa peserta ke lokasi. Namun ternyata tidak semuanya mereka mau diangkut oleh kendaraan roda empat karena ada peserta yang memakai kendaraan roda dua seperti rombongan kami. Sementara untuk para peserta yang berasal dari luar Kecamatan Suoh dan BNS harus rela membawa sepedanya menuju ke lokasi satu hari sebelum acara dimulai.

Panitia pada h-1 telah menyiapkan armada berupa beberapa mobil truk untuk membawa sepeda yang dikumpulkan di GSG Pemda Liwa dan sekitar pukul 11.00 WIB siang mobil truk pembawa sepeda mulai berangkat melalui jalur Kabupaten Tanggamus mengingat melalui kabupaten tersebut medan yang dilalui datar dan keadaan jalan relatif baik dibandingkan melalui jalur Sukabumi-Suoh. Sehingga dapat mengurangi kerusakan akibat berhimpitnya sepeda milik peserta dengan peserta satu sama lain. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan yang relatif menegangkan dan menantang bagi pemula seperti kami, akhirnya tibalah kami di lokasi. Untunglah cuaca pada hari itu cukup cerah dan bersahabat sehingga tidak ada kendala dan rintangan yang berarti selama dalam perjalanan menuju lokasi.

Rupanya tak disangka peserta sudah ramai di lokasi dan tak lama berselang acara dimulai dengan sambutan Bapak Bupati Lampung Barat yang menandai pelepasan para peserta sepeda sehat. Tampak petinggi-petinggi pemda tak mau ketinggalan turut hadir antara lain Bapak Sekda Kabupaten Lampung Barat beserta jajarannya, mulai dari Asisten 1, Asisten 2, Asisten 3 serta para staf ahli bupati, kepala bagian di lingkungan sekretariat pemda dan para kepala SKPD beserta jajarannya dan pihak Kepolisian dan TNI turut serta memeriahkan acara dengan menggowes sepada berbaur dengan peserta lainnya. “Kalau perkiraaan sekitar sembilan ratusan bahkan mungkin seribuan peserta ada pak karena masyarakat dari 2 kecamatan BNS dan Suoh juga banyak ikut berpartisipasi selain para pegawai dan pelajar,” ujar salah seorang peserta kepada kami saat beristirahat sejenak melepas lelah di pinggir jalan.

Menurut pantuan di lokasi, rute yang dilalui peserta sepeda sehat dari BNS ke Suoh diperkirakan berjarak 20-an km dengan kondisi jalan sebagian besar telah di hotmik cukup mulus dan sebagian kecil masih ada jalan tanah berkontur tanjakan dan turunan yang belum di aspal. “Kalau pastinya kami tidak tahu jarak antara BNS ke Suoh pak karena kami belum pernah mengukur secara pasti tapi kalau 15 sampai dengan 20-an km rasanya ada pak, kalau 8 km rasanya lebih,” ujar seorang warga yang kami temui saat rehat di warung kopi.

Rute relatif menantang para peserta pasalnya menawarkan sensasi berbeda, lazimnya rute yang biasa dilewati sepeda sehat biasanya di dalam kota namun kali ini sambil menggowes peserta diajak berekreasi kembali ke alam dengan menghindari jalan utama kota.

Selesai acara pada siang hari, kami pun beranjak ke SMP N 1 Suoh karena menghadiri acara secara simbolis penyerahan SK Kepala Dinas terkait guru honor mulai dari guru TK, SD, SMP dan SMA. Selesai acara hari telah menunjukkan sore kami pun beranjak pulang, kali ini kami mencoba melalui jalan letusan yang letaknya tidak jauh dari pemukiman warga namun untuk melewatinya dibutuhkan pengawasan dari pemandu warga setempat yang paham keadaan tempat tersebut karena di beberapa bagiannya masih kerap kali terjadi letupan air yang berasl dari gas alam yang memiliki hawa panas mungkin sekitar ratusan derajat celcius tersebut, bisa dibayangkan bila salah sedikit akan berakibat fatal.

Terbayar sudah rasa capai dan penat dalam perjalanan setelah memandangi panorama keindahan alam yang indah nan mempesona, maha karya ciptaan Allah yang patut ditaburi. Kita laksana kecil berada di dalam kuali besar yang dilingkupi oleh bukit-bukit hijau disekitarnya.

Ada pameo mengatakan belum rasanya ke Suoh kalau tidak menyempatkan singgah ke-4 danau tersebut. Sebagaimana diketahui di Kecamatan Suoh memiliki empat danau yang sayang bila tak dikunjungi, ke-4 danau tersebut adalah Danau Asam, Danau Minyak, Danau Lebar, dan Danau Belibis. Selain itu juga memiliki potensi geothermal (panas bumi) yang sangat potensial untuk dieksplorasi dan eksploitasi untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat khususnya masyarakat Suoh dan umumnya masyarakat Kabupaten Lampung Barat.

Monday, 19 December 2016

Nyore ke Kebun Raya Liwa (KRL)

Satu lagi ajang rekreasi wisata bagi masyarakat Lampung Barat yang ke depan bakalan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Lampung pasalnya beberapa tahun belakangan mulai dirintisnya pembangunan Kebun Raya Liwa (KRL) atau Kebun Botani Liwa (Liwa Botanical Gardens). Dimana lokasi KRL berada di Kota Liwa Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat, dengan luas mencapai +86 Ha dan memiliki beragam jenis koleksi pembibitan pohon dan tumbuhan.

Nantinya KRL tidak hanya diperuntukkan sekedar berwisata flora saja akan tetapi lebih dari itu kita dapat melakukan beragam jenis kegiatan bernilai edukasi, antara lain misalnya kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, serta jasa lingkungan (sumber Master Plan KRL 2015). Saat ini, walaupun masih dalam tahap awal pembangunan khususnya sarana dan prasarana kebun raya, namun menariknya sudah mulai ramai dikunjungi warga setempat untuk ber-rekreasi, terutama di akhir pekan hari Sabtu dan Minggu serta di hari lain biasanya pada saat sore hari bila cuaca cerah. Dari hanya sekedar berselfie ria hingga duduk santai menikmati segarnya udara dan view (pemandangan alam) pepohonan yang menghiasi bukit barisan yang nampak hijau dari kejauhan nan sedap dipandang mata, dan ada pula yang hanya sekedar duduk-duduk menikmati jajanan yang dijajakan oleh para penjual makanan mulai dari siomay, tahu bulat, es krim, dan jajanan lainnya, yang mendulang berkah dari keberadaan KRL.

Udara disana cukup sejuk bahkan bisa dibilang dingin bila cuaca mendung bahkan berkabut bila sore hari pasalnya lokasinya berada di dataran tinggi. “Kami hanya penasaran saja pak karena teman-teman cerita kalau sore disini ramai pengunjung mangkanya kami juga bersama keluarga tak ketinggalan walau cuman foto-foto buat DP (display picture pen.) di medsos, ujar salah seorang pengujung berasal dari Gunung Sugih Liwa. Beberapa pengunjung ada yang hanya duduk-duduk bercengkrama bersama rekan sejawatnya. “Sekedar duduk-duduk santai aja pak, sambil menikmati cemilan serta melepas kepenatan dari rutinitas kantor,” ujar temannya menimpali. Bila diperhatikan rata-rata ungkapan pengunjung yang kebanyakan anak muda bahkan ada orang tua dan anak-anak, mereka hampir sama. Kebanyakan pengunjung datang karena memenuhi rasa penasaran serta mencari suasana lain yang lebih fresh untuk bermain dan berekreasi di alam.

Menurut catatan yang penulis himpun melalui browsing internet hingga saat ini rupanya di Indonesia sudah terdapat sekitar 9 buah kebun raya, salah satunya adalah KRL.Ke-9 kebun raya tersebut dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah mengkonservasi 73.080 spesimen dan terdiri atas sekitar 20% dari tumbuhan Indonesia. Ke-9 kebun raya tersebut adalah pertama Kebun Raya Bogor, kedua Kebun Raya Cibodas yang berada di Ciancur pada lokasi di kaki Gunung Gede, yang merupakan cabang dari Kebun Raya Bogor, ketiga Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Jabar, ke-empat KR Purwodadi Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, kelima Kebun Raya Eka Karya Balidi wilayah Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali, ke-enam Kebun Raya Bogor. Untuk Pulau Sumatera yang masih dalam tahap perintisan adalah Kebun Raya Liwa (KRL) di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, Kebun Raya Samosir di Kabupaten Samosir Propinsi Sumatera Utara serta Kebun Raya Sriwijaya yang berada di Kabupaten Ogan Ilir Propinsi Sumatera Selatan.

Ruang Terbuka Hijau Taman Kota Hamtebiu

Taman Kota Hamtebiu berada di jantung Kota Liwa letaknya cukup strategis di jalan protokol tepatnya di Kota Liwa Kelurahan Pasar Liwa Kecamatan Balik bukit Kabupaten Lampung Barat berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, sangat cocok sekali untuk dikunjungi buat refresing bersama keluarga dan handai tolan pasalnya selain danau yang dapat kita saksikan, juga kita dapat mencoba fasilitas lainnya diantaranya perahu bebek untuk mengitari danau, cafe, serta tempat bermain anak. Hasil pantauan di lapangan saat ini telah dipasang semacam lampu sorot atau penerangan outdoor yang relatif besar yang cakupannya bisa beberapa radius meter, cahayanya cukup terang bisa menyoroti seluruh taman guna mengurangi keremangan dari kegelapan malam dan dampak-dampak negatif yang timbul lainnya.

Pembangunan kebun raya Liwa dan Taman Kota Hamtebiu sepertinya sudah sangat sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dimana minimal 30% ruang wilayah kota/kawasan perkotaan harus berupa ruang terbuka hijau. Tentu saja kebun raya memiliki peran yang strategis dan vital dalam rangka menambah ruang terbuka hijau yang saat ini cenderung berkurang akibat alih fungsi lahan dan faktor penyebab lainnya, serta akan tetap dapat dipertahankan hingga beberapa puluh bahkan ratusan tahun ke depan.

Monday, 19 September 2016

PESTA RAKYAT SEKURA 2016 WAJAH PECAHKAN REKOR MURI

Pemkab Lampung Barat berhasil kembali Memecahkan Rekor Muri dengan “Peserta Pesta Rakyat Sekura Cakak Buah dengan Arak-Arakan Terbanyak”.

Setelah berhasil memecahkan rekor Muri pada tahun 2015 kemarin dengan katagori "Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak," kali ini bertepatan di hari ulang tahun peraknya, Pemkab Lampung Barat kembali dianugerahi rekor Muri dengan Pesta Sekura dengan arak-arakan terbanyak dan lebih diluar dugaan lagi lantaran berhasil menembus rekor dunia. Acara yang dikemas dalam rangka peringatan HUT RI ke-71 dan HUT Lampung Barat ke-25 tahun 2016 yang jatuh pada Sabtu tanggal 24 September mendatang, dimeriahkan dengan pesta sekura dengan jumlah peserta terbilang cukup spektakuler, betapa tidak? Pasalnya ada sebanyak 5.454 wajah peserta ikut ambil bagian memeriahkan acara pesta rakyat sekaligus dikemas bersamaan dengan jalan sehat yang merupakan salah satu dari berbagai rangkaian kegiatan Lampung Barat Nayuh.

Acara yang berlangsung (18/9/2016) kemarin cukup sukses dan semarak pasalnya perhelatan ini melibatkan peserta terbanyak dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya dalam catatan Muri ada sebanyak 5.454 peserta mengenakan topeng Sekura betik atau sekura kamak. Target rekor Muri yang tadinya hanya 2016 wajah ternyata terlampaui menjadi lima ribuan lebih. Menurut informasi yang didapat, panitia awalnya menargetkan minimal 2016 namun ternyata diluar dugaan bahkan melebihi dari perkiraan awal namun menurut hitungan diatas kertas bisa mencapai tujuh ribuan. Belakangan diketahui beberapa penyebabnya antara lain karena ada beberapa peserta yang tidak sempat terhitung oleh tim Muri karena mereka lebih duluan sebelum dilepas oleh Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M. beserta jajarannya dan unsur Forkopimda Lampung Barat serta penyebab lainnya mungkin tidak terpantau oleh tim muri karena antusiasme peserta cukup tinggi mengikuti pesta sakura tersebut sehingga tidak menghiraukan lagi apakah mereka dihitung atau tidak oleh tim muri.

Diketahui peserta yang berasal dari pegawai di lingkungan pemkab, serta utusan masyarakat kecamatan se-Lampung Barat turut serta dalam kegiatan tersebut. Menariknya panitia juga menyediakan beraneka hadiah bagi para pemenang lomba, diantara hadiah utamanya adalah sepeda motor.

Umumnya olahraga jalan sehat dengan mengenakan pakaian olahraga mungkin sudah biasa. Namun Sabtu kemarin cukup bersejarah, ribuan pegawai dan masyarakat mengikuti olahraga pagi jalan sehat dengan mengenakan berbagai pakaian yang tak lazim sebab acara jalan tersebut diikuti oleh peserta sekura.

Nampak terlihat beberapa peserta pria berpakaian daster dan mengenakan topeng serta mengenakan dandanan layaknya seorang ibu yang akan melahirkan. Tak hanya itu, para peserta lainnya yang mengikuti acara ini juga mengenakan topeng beraneka rupa wajah. Pantauan di lapangan tampak dari kejauhan, laksana lautan manusia, tumpah ruah memadati sepanjang jalan protokol dengan berbagai macam kostum unik dan beraneka rupa topeng wajah yang dikenakan. Rombongan sekura tersebut terlihat rapih dan tertib dalam melakukan kegiatan jalan sehat.

Adapun rute yang dilalui oleh peserta jalan sehat tersebut dimulai dari depan Wisma Sindalapai Pasar Liwa menuju Lapangan Pemda Way Mengaku. Nuansa menyambut perayaan HUT Lambar juga kental terasa, karena di setiap rumah penduduk dipasang umbul-umbul dan bendera menambah semaraknya Hut Lambar ke-25 tersebut.

Setibanya di lapangan Pemda Way Mengaku, peserta sakura melakukan cakak buah pohon yaitu panjat pinang. Ada sekitar puluhan pinang yang telah disediakan pihak panitia. Tidak sampai disitu saja pada siang harinya dilanjutkan dengan hiburan rakyat yang dimeriahkan oleh artis ibukota Citacitata dan artis ibukota lainnya.

Kemeriahan nampak terlihat pada acara ini dimana terlihat beberapa peserta pria berpakaian daster dan mengenakan topeng serta mengenakan dandanan layaknya seorang ibu yang akan melahirkan bahkan beberapa peserta ada yang berpakaian ala kadarnya yang hanya tertutup pada bagian wajah dan bagian tubuh lainnya mengenakan sarung dan topeng, orang sekitar yang kebetulan melihat secara bercanda menyebut dengan sakura "campur-campur."

Pantauan di lapangan tampak dari kejauhan, laksana lautan manusia, tumpah ruah memadati sepanjang jalan protokol dengan berbagai macam kostum unik dan beraneka rupa topeng wajah yang dikenakan. Rombongan sekura tersebut terlihat rapih dan tertib saat melakukan kegiatan jalan sehat. Ribuan peserta mengikuti acara tersebut. Mereka antusias, mengikuti jalannya pesta rakyat sekura yang mengambil rute dimulai dari depan Wisma Sindalapai Pasar Liwa menuju Lapangan Pemda Way Mengaku.

Sebagaimana diketahui Sakura masuk sebagai dalam daftar warisan budaya tak benda yang diakui oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) pada tahun 2015 lalu. Unesco adalah sebuah organisasi perserikatan bangsa-bangsa yang menangani masalah pendidikan, keilmuan dan kebudayaan dan kini sakura menjadi hak paten lampung barat.

Dalam sambutannya Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M mengatakan umumnya sekura ditampilkan dalam tarian topeng pada pesta adat yang biasanya diadakan setiap awal hari raya Idul Fitri di bulan Syawal. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai manifestasi dari ungkapan rasa syukur, sukacita, evaluasi diri dan perenungan terhadap sikap dan tingkah laku.

Ditambahkan tujuan acara ini antara lain untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung di Lampung Barat. Bupati juga berharap pesta sakura dapat menjadi salah satu icon pariwisata unggulan Kabupaten, selain itu sebagai bentuk upaya pelestarian budaya sehingga Lampung Barat akan semakin dikenal luas ke seluruh wilayah nusantara.

Rangkaian kegiatan yang disebut Lampung Barat Nayuh yang dimulai dari awal September hingga bulan Oktober diisi dengan berbagai event kegiatan, mulai dari pertandingan sepakbola se-Kecamatan Lampung Barat, Hari Kunjung Perpustakaan yang diisi dengan kegiatan lomba mewarnai tingkat PAUD, lomba cerita bahasa Lampung tingkat SD, dan lomba pidato berbahasa Inggris TK/SMP/ dan SMA, kemudian berbagai perlombaan olah raga prestasi dan olah raga tradisional, donor darah, lomba senam antar instansi, adventure trail, lomba baris berbaris, rakor apkasi korwil Lampung, upacara HUT Lambar, pameran Liwa Fair dari tanggal 19 sampai dengan 28 September, pengajian Akbar pada tanggal 1 Oktober dengan penceramah Ustadzah Ummi Qurrota Ayuni dari Jakarta serta seminar daerah.

Friday, 29 July 2016

Trip to Bali Island

Trip to Bali

Pengalaman yang mengesankan kunjungan ku ke Bali untuk pertama kali, media banyak menyebutkan pulau tersebut sebagai Pulau Dewata, Pulau Surga, Pulau Seribu Pura, Pula Magis serta sebutan-sebutan lainnya. Entah karena banyak pura-pura atau rumah peribadatan umat Hindu dan destinasi wisata disana sehingga jargon tersebut disematkan kepada pulau tersebut semenjak dahulu. Bahkan akhir-akhir ini Bali dinobatkan kembali dengan gelar baru dari Komite Perdamaian Dunia (WPC) menobatkan Pulau Bali sebagai Pulau Perdamaian.

Kebetulan waktu itu ada kegiatan perjalanan dinas di tempatku bekerja, lokasi kegiatan yang dipillih adalah pulau Bali, tanpa pikir panjang lagi ku sanggupi tugas tersebut, menyelam sambil minum air pikirku dalam hati. Tentunya setelah acara kantor selesai akan aku sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang cukup terkenal disana, misal pantai Kuta, Sanur, Pura Tanah Lot dan patung GWK dan tempat-tempat menarik lainnya bila waktunya mencukupi.

Hari keberangkatan

Tiba hari keberangkatan, sore itu kami rombongan berlima dari kantor sudah memesan travel yang sama, tujuan Bandar Lampung karena keesokan paginya pesawat sekitar pukul 8-an dari Bandara Raden Intan II Branti akan take off ke Bali setelah transit dahulu di Jakarta. Sebenarnya kami berlima itu satu kantor namun berbeda tujuan, aku bersama 1 orang temanku ke Bali dan sisanya 3 orang ke Semarang namun hari keberangkatan dan kepulangan kami kebetulan saja bersamaan. Awalnya kami masih satu pesawat hanya saja pada saat transit di jakarta kami berpisah karena tujuan kami memang berbeda. Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta ke Denpasar Bali memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, kami menggunakan pesawat citi link. Keberangkatan dari Jakarta (Soekarno Hatta) Jam 16:40 WIB. Tiba di bali pukul 19.30 WITA, sudah agak larut malam karena kami transit di Jakarta sekitar 8 jam karena ada delay beberapa kali yang membuat kami bosan dan jenuh menunggu, dan kebetulan juga kami berganti maskapai penerbangan yang awal keberangaktan menggunakan pesawat Lion Air berganti maskapai penerbangan Citi Link.

Menginjakkan kaki pertama kali di Bandara International Bali terasa sekali atmosfir Bali yang cukup khas, mulai dari ukiran-ukiran dan arsitektur bangunan serta bau dupa berasal dari kayu cendana yang dipakai untuk sesaji yang diletakkan di beberapa bagian gedung di bandara mulai terhirup hidung. Malam semakin larut karena kami sempatkan dahulu mampir ke mini market yang ada di bandara untuk membeli perlengkapan serta makanan kecil selama di hotel. Untunglah kami di Bandara International Denpasar kami dijemput oleh agen biro perjalanan wisata yang kebetulan kami menggunakan jasa kebalilagi.com. Biro perjalanan yang sengaja dipilihkan oleh atasan kami, sehingga walau baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kami tidak merasa kuatir, takut atau was-was karena kami diservice oleh biro perjalanan tersebut.

Sebelum tiba di hotel kami memutuskan untuk makan malam, kebetulan kami minta dicarikan rumah makan masakan Jawa yang kami anggap menunya menyediakan yang masakan-masakan halal. Usai makan kami segera menuju ke hotel The Harmony Legian yang berada di Jalan Legian 191 Kuta Bali, kami menginap selama 3 malam disana. The Harmony Legian merupakan hotel bintang 3 yang lokasinya berada di Legian yang tak jauh dari lokasi Monumen Ground Zero Bali I (monumen bom bali I) di Jl legian Kuta, tepatnya di Paddy’s Pub dan di depan Sari Club kira-kira 400 M dari hotel tempat kami menginap. Setelah check in di hotel, malam itu tidak aku lewatkan kesempatan untuk keluar malam dengan memakai celana pendek layaknya turis kesasar, he..he, aku sendirian keluar tanpa ditemani kawanku karena dia sudah kecapaian dalam perjalanan sehingga memutuskan untuk istirahat saja.

Berbeda dengan temanku, aku malam itu justru tidak bisa tidur karena penasaran ingin melihat suasana malam di Legian yang sangat riuh ramai, hingar bingar suara musik karena di kawasan tersebut banyak pengujung turis mancanegara dan dipenuhi kafe dan club-club malam bertebaran di sepanjang kawasan tersebut. Jalan Legian Kuta salah satu pusat kehidupan malam di Bali, di sepanjang pinggir jalan banyak terdapat bar, diskotik, restoran, dan hotel. Hampir setiap malam jalan Legian tidak pernah sepi oleh wisatawan manca negara dan domestik yang gemar akan kehidupan malam.

Ada juga beberapa counter Tourist Information yang menyediakan brosur, voucher dan shuttle bus. Selain Tourist Information juga banyak pemuda di pinggir jalan yang menawarkan jasa rental kendaraan, belajar surfing. Beberapa meter melewati Monumen Bom Bali di sebelah ruko Billabong adalah the famous Poppies Lane II. Poppies Lane II adalah jalan kecil satu arah dari Pantai Kuta menuju Legian yang sebenarnya hanya bisa dilalui satu mobil. Sepanjang jalan ini bertebaran motel, hotel, restoran, pub, bar, Circle K, warnet, pembuat tatto dan kios-kios penjual surfing board dan cindera mata. Kita akan serasa memasuki suatu wilayah yang sangat asing terasa pasalnya di mana-mana bertebaran turis bule baik dari Asia maupun Eropa yang berbicara dengan bahasanya masing-masing. Puas berjalan kaki, tak terasa sudah hampir 2 jam aku berjalan sepanjang jalan legian, jam di HP ku telah menunjukkan pukul 12.15 WITA waktu WITA lebih cepat 1 jam dari WIB. Akhirnya aku sudahi saja perjalanan ku malam itu, untuk kembali ke hotel. Karena esok hari, masih banyak agenda perjalanan yang akan dilakukan.

Hari Pertama

Sekitar pukul 07.30 WITA selepas breakfeast di hotel, kami dijemput oleh driver namanya Mas Wahyu, orangnya ramah sekaligus guide (pemandu) kami disana dengan menggunakan mobil yang telah dipersiapkan. Sesuai jadwal kegiatan pagi itu kamai mengunjungi Bali Pulina Agrowisata, sebuah agrowisata yang dikemas dengan wisata perkebunan Kopinya, dimana Bali selain memiliki potensi keindahan alam dan adat budaya ternyata memiliki ragam variasi wisata lainnya antara lain di bidang agrowisata perkebunan kopi. Kunjungan ke Bali Pulina Agrowisata Perkebunan Kopi, yang terletak di Jl. Br. Pujung Kelod, Tegalang Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, yang dirintis sejak tanggal 12 Januari 2010, memiliki luas sekitar 1,5 ha, akan tetapi baru disahkan pada tahun 2011. Adapun harga tiket masuk bagi pengunjung Rp.100.000,- per orang, harga tersebut telah termasuk 8 jenis varian rasa kopi dan teh diatas dan dapat dipesan secara online melalui website resminya. Kedelapan jenis varian rasa kopi dan teh tersebut adalah lemon tea, ginger tea, ginger coffee, ginseng coffee, chocolate coffee, pure cocoa, vanilla coffee dan Bali coffee disajikan dalam cangkir secara berjajar dalam satu tatakan kayu agar pengunjung dapat menikmati terlebih dahulu sebelum memilih produk mana yang ingin dipesan. Selain mendapatkan kopi juga mendapatkan pisang goreng atau pisang rai (pisang kukus khas Bali) dan keripik nangka.

Di Bali Pulina terdapat 2 jenis hewan luwak yang ditangkarkan, ada yang berjenis injin dan ketan, nama jenis luwak tersebut berasal dari bahasa daerah setempat. Perawakan luwak injin bentuknya kecil agak panjang sedangkan ketan, bentuknya agak besar tetapi pendek. Pemberian makanan kepada kedua hewan ternak yang ditangkar di kandang penangkaran tersebut, jika pagi hari diberikan makanan berupa buah kopi yang sudah merah matang sedangkan jika siang dan malam hari diberikan buah-buah seperti pepaya dan pisang.

Di Agrowisata Bali Pulina tersebut juga melihat proses pembuatan kopi terutama kopi luwak yang diolah masih secara tradisionil. Para pengunjung agro wisata perkebunan kopi ini bisa ikut mencoba memetik buah kopi pada waktu panen, para pengunjung juga bisa mencoba melakukan berbagai tahapan pengolahan kopi yang ada. Setelah bubuk kopi dibuat, para pengunjung dapat langsung menikmati kopi olahan sambil menikmati pemandangan alam dengan suasana perkebunan. Selain tanaman kopi, ada juga kebun coklat, buah-buahan dan berbagai tanaman herbal. Dibuka mulai pukul 07.00 sampai dengan 19.00 WITA. Agrowisata ini dibuat bertujuan untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar serta membantu petani lokal untuk untuk menjual komodiatas kopinya.

Proses pengolahan setelah kotoran luwak yang masih berbentuk biji kopi dibersihkan dari berbagai kotoran, para pekerja akan mengolah biji kopi dengan melakukan roasting kopi secara tradisional dengan menggunakan tungku api dengan kayu bakar. Karena menggunakan tungku dan kayu bakar dipercaya, cita rasa kopi akan semakin meningkat dan menjadikan kualitas kopi menjadi lebih baik. Setelah semua proses selesai, bubuk kopi kemudian dilakukan pengemasan. Hari berikutnya kami masih mengunjungi beberapa agrowisata perkebunan kopi lainnya yang kebetulan lokasinya masih berada di Kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan dan sekitarnya.

Ternyata hingga selesai kegiatan yang kami lakukan, kami belum sempat mengunjungi Pantai Kuta dan Sanur yang tersohor itu, patung GWK serta destinasi wisata lainnya karena singkatnya waktu berada disana, tentu yang menjadi prioritas utama adalah menyelesaikan tugas yang dibebankan dari kantor terlebih dahulu namun beberapa bulan dari kunjungan pertama ke Bali. Tak disangka aku mendapatkan kesempatan kembali mengunjungi Bali atas undangan dari pihak kementerian yang kebetulan lokasinya disana. Tentunya di kunjungan ke-2 ini, kesempatan itu tidak aku sia-siakan untuk mengunjungi Pantai Kuta, Sanur dan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK).(**selesai**).

"/>"/>
"/> "/> "/> "/>