burung

Monday, 19 September 2016

PESTA RAKYAT SEKURA 2016 WAJAH PECAHKAN REKOR MURI

Pemkab Lampung Barat berhasil kembali Memecahkan Rekor Muri dengan “Peserta Pesta Rakyat Sekura Cakak Buah dengan Arak-Arakan Terbanyak”.

Setelah berhasil memecahkan rekor Muri pada tahun 2015 kemarin dengan katagori "Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak," kali ini bertepatan di hari ulang tahun peraknya, Pemkab Lampung Barat kembali dianugerahi rekor Muri dengan Pesta Sekura dengan arak-arakan terbanyak dan lebih diluar dugaan lagi lantaran berhasil menembus rekor dunia. Acara yang dikemas dalam rangka peringatan HUT RI ke-71 dan HUT Lampung Barat ke-25 tahun 2016 yang jatuh pada Sabtu tanggal 24 September mendatang, dimeriahkan dengan pesta sekura dengan jumlah peserta terbilang cukup spektakuler, betapa tidak? Pasalnya ada sebanyak 5.454 wajah peserta ikut ambil bagian memeriahkan acara pesta rakyat sekaligus dikemas bersamaan dengan jalan sehat yang merupakan salah satu dari berbagai rangkaian kegiatan Lampung Barat Nayuh.

Acara yang berlangsung (18/9/2016) kemarin cukup sukses dan semarak pasalnya perhelatan ini melibatkan peserta terbanyak dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya dalam catatan Muri ada sebanyak 5.454 peserta mengenakan topeng Sekura betik atau sekura kamak. Target rekor Muri yang tadinya hanya 2016 wajah ternyata terlampaui menjadi lima ribuan lebih. Menurut informasi yang didapat, panitia awalnya menargetkan minimal 2016 namun ternyata diluar dugaan bahkan melebihi dari perkiraan awal namun menurut hitungan diatas kertas bisa mencapai tujuh ribuan. Belakangan diketahui beberapa penyebabnya antara lain karena ada beberapa peserta yang tidak sempat terhitung oleh tim Muri karena mereka lebih duluan sebelum dilepas oleh Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M. beserta jajarannya dan unsur Forkopimda Lampung Barat serta penyebab lainnya mungkin tidak terpantau oleh tim muri karena antusiasme peserta cukup tinggi mengikuti pesta sakura tersebut sehingga tidak menghiraukan lagi apakah mereka dihitung atau tidak oleh tim muri.

Diketahui peserta yang berasal dari pegawai di lingkungan pemkab, serta utusan masyarakat kecamatan se-Lampung Barat turut serta dalam kegiatan tersebut. Menariknya panitia juga menyediakan beraneka hadiah bagi para pemenang lomba, diantara hadiah utamanya adalah sepeda motor.

Umumnya olahraga jalan sehat dengan mengenakan pakaian olahraga mungkin sudah biasa. Namun Sabtu kemarin cukup bersejarah, ribuan pegawai dan masyarakat mengikuti olahraga pagi jalan sehat dengan mengenakan berbagai pakaian yang tak lazim sebab acara jalan tersebut diikuti oleh peserta sekura.

Nampak terlihat beberapa peserta pria berpakaian daster dan mengenakan topeng serta mengenakan dandanan layaknya seorang ibu yang akan melahirkan. Tak hanya itu, para peserta lainnya yang mengikuti acara ini juga mengenakan topeng beraneka rupa wajah. Pantauan di lapangan tampak dari kejauhan, laksana lautan manusia, tumpah ruah memadati sepanjang jalan protokol dengan berbagai macam kostum unik dan beraneka rupa topeng wajah yang dikenakan. Rombongan sekura tersebut terlihat rapih dan tertib dalam melakukan kegiatan jalan sehat.

Adapun rute yang dilalui oleh peserta jalan sehat tersebut dimulai dari depan Wisma Sindalapai Pasar Liwa menuju Lapangan Pemda Way Mengaku. Nuansa menyambut perayaan HUT Lambar juga kental terasa, karena di setiap rumah penduduk dipasang umbul-umbul dan bendera menambah semaraknya Hut Lambar ke-25 tersebut.

Setibanya di lapangan Pemda Way Mengaku, peserta sakura melakukan cakak buah pohon yaitu panjat pinang. Ada sekitar puluhan pinang yang telah disediakan pihak panitia. Tidak sampai disitu saja pada siang harinya dilanjutkan dengan hiburan rakyat yang dimeriahkan oleh artis ibukota Citacitata dan artis ibukota lainnya.

Kemeriahan nampak terlihat pada acara ini dimana terlihat beberapa peserta pria berpakaian daster dan mengenakan topeng serta mengenakan dandanan layaknya seorang ibu yang akan melahirkan bahkan beberapa peserta ada yang berpakaian ala kadarnya yang hanya tertutup pada bagian wajah dan bagian tubuh lainnya mengenakan sarung dan topeng, orang sekitar yang kebetulan melihat secara bercanda menyebut dengan sakura "campur-campur."

Pantauan di lapangan tampak dari kejauhan, laksana lautan manusia, tumpah ruah memadati sepanjang jalan protokol dengan berbagai macam kostum unik dan beraneka rupa topeng wajah yang dikenakan. Rombongan sekura tersebut terlihat rapih dan tertib saat melakukan kegiatan jalan sehat. Ribuan peserta mengikuti acara tersebut. Mereka antusias, mengikuti jalannya pesta rakyat sekura yang mengambil rute dimulai dari depan Wisma Sindalapai Pasar Liwa menuju Lapangan Pemda Way Mengaku.

Sebagaimana diketahui Sakura masuk sebagai dalam daftar warisan budaya tak benda yang diakui oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) pada tahun 2015 lalu. Unesco adalah sebuah organisasi perserikatan bangsa-bangsa yang menangani masalah pendidikan, keilmuan dan kebudayaan dan kini sakura menjadi hak paten lampung barat.

Dalam sambutannya Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M mengatakan umumnya sekura ditampilkan dalam tarian topeng pada pesta adat yang biasanya diadakan setiap awal hari raya Idul Fitri di bulan Syawal. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai manifestasi dari ungkapan rasa syukur, sukacita, evaluasi diri dan perenungan terhadap sikap dan tingkah laku.

Ditambahkan tujuan acara ini antara lain untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung di Lampung Barat. Bupati juga berharap pesta sakura dapat menjadi salah satu icon pariwisata unggulan Kabupaten, selain itu sebagai bentuk upaya pelestarian budaya sehingga Lampung Barat akan semakin dikenal luas ke seluruh wilayah nusantara.

Rangkaian kegiatan yang disebut Lampung Barat Nayuh yang dimulai dari awal September hingga bulan Oktober diisi dengan berbagai event kegiatan, mulai dari pertandingan sepakbola se-Kecamatan Lampung Barat, Hari Kunjung Perpustakaan yang diisi dengan kegiatan lomba mewarnai tingkat PAUD, lomba cerita bahasa Lampung tingkat SD, dan lomba pidato berbahasa Inggris TK/SMP/ dan SMA, kemudian berbagai perlombaan olah raga prestasi dan olah raga tradisional, donor darah, lomba senam antar instansi, adventure trail, lomba baris berbaris, rakor apkasi korwil Lampung, upacara HUT Lambar, pameran Liwa Fair dari tanggal 19 sampai dengan 28 September, pengajian Akbar pada tanggal 1 Oktober dengan penceramah Ustadzah Ummi Qurrota Ayuni dari Jakarta serta seminar daerah.

Friday, 29 July 2016

Trip to Bali Island

Trip to Bali

Pengalaman yang mengesankan kunjungan ku ke Bali untuk pertama kali, media banyak menyebutkan pulau tersebut sebagai Pulau Dewata, Pulau Surga, Pulau Seribu Pura, Pula Magis serta sebutan-sebutan lainnya. Entah karena banyak pura-pura atau rumah peribadatan umat Hindu dan destinasi wisata disana sehingga jargon tersebut disematkan kepada pulau tersebut semenjak dahulu. Bahkan akhir-akhir ini Bali dinobatkan kembali dengan gelar baru dari Komite Perdamaian Dunia (WPC) menobatkan Pulau Bali sebagai Pulau Perdamaian.

Kebetulan waktu itu ada kegiatan perjalanan dinas di tempatku bekerja, lokasi kegiatan yang dipillih adalah pulau Bali, tanpa pikir panjang lagi ku sanggupi tugas tersebut, menyelam sambil minum air pikirku dalam hati. Tentunya setelah acara kantor selesai akan aku sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang cukup terkenal disana, misal pantai Kuta, Sanur, Pura Tanah Lot dan patung GWK dan tempat-tempat menarik lainnya bila waktunya mencukupi.

Hari keberangkatan

Tiba hari keberangkatan, sore itu kami rombongan berlima dari kantor sudah memesan travel yang sama, tujuan Bandar Lampung karena keesokan paginya pesawat sekitar pukul 8-an dari Bandara Raden Intan II Branti akan take off ke Bali setelah transit dahulu di Jakarta. Sebenarnya kami berlima itu satu kantor namun berbeda tujuan, aku bersama 1 orang temanku ke Bali dan sisanya 3 orang ke Semarang namun hari keberangkatan dan kepulangan kami kebetulan saja bersamaan. Awalnya kami masih satu pesawat hanya saja pada saat transit di jakarta kami berpisah karena tujuan kami memang berbeda. Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta ke Denpasar Bali memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, kami menggunakan pesawat citi link. Keberangkatan dari Jakarta (Soekarno Hatta) Jam 16:40 WIB. Tiba di bali pukul 19.30 WITA, sudah agak larut malam karena kami transit di Jakarta sekitar 8 jam karena ada delay beberapa kali yang membuat kami bosan dan jenuh menunggu, dan kebetulan juga kami berganti maskapai penerbangan yang awal keberangaktan menggunakan pesawat Lion Air berganti maskapai penerbangan Citi Link.

Menginjakkan kaki pertama kali di Bandara International Bali terasa sekali atmosfir Bali yang cukup khas, mulai dari ukiran-ukiran dan arsitektur bangunan serta bau dupa berasal dari kayu cendana yang dipakai untuk sesaji yang diletakkan di beberapa bagian gedung di bandara mulai terhirup hidung. Malam semakin larut karena kami sempatkan dahulu mampir ke mini market yang ada di bandara untuk membeli perlengkapan serta makanan kecil selama di hotel. Untunglah kami di Bandara International Denpasar kami dijemput oleh agen biro perjalanan wisata yang kebetulan kami menggunakan jasa kebalilagi.com. Biro perjalanan yang sengaja dipilihkan oleh atasan kami, sehingga walau baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kami tidak merasa kuatir, takut atau was-was karena kami diservice oleh biro perjalanan tersebut.

Sebelum tiba di hotel kami memutuskan untuk makan malam, kebetulan kami minta dicarikan rumah makan masakan Jawa yang kami anggap menunya menyediakan yang masakan-masakan halal. Usai makan kami segera menuju ke hotel The Harmony Legian yang berada di Jalan Legian 191 Kuta Bali, kami menginap selama 3 malam disana. The Harmony Legian merupakan hotel bintang 3 yang lokasinya berada di Legian yang tak jauh dari lokasi Monumen Ground Zero Bali I (monumen bom bali I) di Jl legian Kuta, tepatnya di Paddy’s Pub dan di depan Sari Club kira-kira 400 M dari hotel tempat kami menginap. Setelah check in di hotel, malam itu tidak aku lewatkan kesempatan untuk keluar malam dengan memakai celana pendek layaknya turis kesasar, he..he, aku sendirian keluar tanpa ditemani kawanku karena dia sudah kecapaian dalam perjalanan sehingga memutuskan untuk istirahat saja.

Berbeda dengan temanku, aku malam itu justru tidak bisa tidur karena penasaran ingin melihat suasana malam di Legian yang sangat riuh ramai, hingar bingar suara musik karena di kawasan tersebut banyak pengujung turis mancanegara dan dipenuhi kafe dan club-club malam bertebaran di sepanjang kawasan tersebut. Jalan Legian Kuta salah satu pusat kehidupan malam di Bali, di sepanjang pinggir jalan banyak terdapat bar, diskotik, restoran, dan hotel. Hampir setiap malam jalan Legian tidak pernah sepi oleh wisatawan manca negara dan domestik yang gemar akan kehidupan malam.

Ada juga beberapa counter Tourist Information yang menyediakan brosur, voucher dan shuttle bus. Selain Tourist Information juga banyak pemuda di pinggir jalan yang menawarkan jasa rental kendaraan, belajar surfing. Beberapa meter melewati Monumen Bom Bali di sebelah ruko Billabong adalah the famous Poppies Lane II. Poppies Lane II adalah jalan kecil satu arah dari Pantai Kuta menuju Legian yang sebenarnya hanya bisa dilalui satu mobil. Sepanjang jalan ini bertebaran motel, hotel, restoran, pub, bar, Circle K, warnet, pembuat tatto dan kios-kios penjual surfing board dan cindera mata. Kita akan serasa memasuki suatu wilayah yang sangat asing terasa pasalnya di mana-mana bertebaran turis bule baik dari Asia maupun Eropa yang berbicara dengan bahasanya masing-masing. Puas berjalan kaki, tak terasa sudah hampir 2 jam aku berjalan sepanjang jalan legian, jam di HP ku telah menunjukkan pukul 12.15 WITA waktu WITA lebih cepat 1 jam dari WIB. Akhirnya aku sudahi saja perjalanan ku malam itu, untuk kembali ke hotel. Karena esok hari, masih banyak agenda perjalanan yang akan dilakukan.

Hari Pertama

Sekitar pukul 07.30 WITA selepas breakfeast di hotel, kami dijemput oleh driver namanya Mas Wahyu, orangnya ramah sekaligus guide (pemandu) kami disana dengan menggunakan mobil yang telah dipersiapkan. Sesuai jadwal kegiatan pagi itu kamai mengunjungi Bali Pulina Agrowisata, sebuah agrowisata yang dikemas dengan wisata perkebunan Kopinya, dimana Bali selain memiliki potensi keindahan alam dan adat budaya ternyata memiliki ragam variasi wisata lainnya antara lain di bidang agrowisata perkebunan kopi. Kunjungan ke Bali Pulina Agrowisata Perkebunan Kopi, yang terletak di Jl. Br. Pujung Kelod, Tegalang Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, yang dirintis sejak tanggal 12 Januari 2010, memiliki luas sekitar 1,5 ha, akan tetapi baru disahkan pada tahun 2011. Adapun harga tiket masuk bagi pengunjung Rp.100.000,- per orang, harga tersebut telah termasuk 8 jenis varian rasa kopi dan teh diatas dan dapat dipesan secara online melalui website resminya. Kedelapan jenis varian rasa kopi dan teh tersebut adalah lemon tea, ginger tea, ginger coffee, ginseng coffee, chocolate coffee, pure cocoa, vanilla coffee dan Bali coffee disajikan dalam cangkir secara berjajar dalam satu tatakan kayu agar pengunjung dapat menikmati terlebih dahulu sebelum memilih produk mana yang ingin dipesan. Selain mendapatkan kopi juga mendapatkan pisang goreng atau pisang rai (pisang kukus khas Bali) dan keripik nangka.

Di Bali Pulina terdapat 2 jenis hewan luwak yang ditangkarkan, ada yang berjenis injin dan ketan, nama jenis luwak tersebut berasal dari bahasa daerah setempat. Perawakan luwak injin bentuknya kecil agak panjang sedangkan ketan, bentuknya agak besar tetapi pendek. Pemberian makanan kepada kedua hewan ternak yang ditangkar di kandang penangkaran tersebut, jika pagi hari diberikan makanan berupa buah kopi yang sudah merah matang sedangkan jika siang dan malam hari diberikan buah-buah seperti pepaya dan pisang.

Di Agrowisata Bali Pulina tersebut juga melihat proses pembuatan kopi terutama kopi luwak yang diolah masih secara tradisionil. Para pengunjung agro wisata perkebunan kopi ini bisa ikut mencoba memetik buah kopi pada waktu panen, para pengunjung juga bisa mencoba melakukan berbagai tahapan pengolahan kopi yang ada. Setelah bubuk kopi dibuat, para pengunjung dapat langsung menikmati kopi olahan sambil menikmati pemandangan alam dengan suasana perkebunan. Selain tanaman kopi, ada juga kebun coklat, buah-buahan dan berbagai tanaman herbal. Dibuka mulai pukul 07.00 sampai dengan 19.00 WITA. Agrowisata ini dibuat bertujuan untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar serta membantu petani lokal untuk untuk menjual komodiatas kopinya.

Proses pengolahan setelah kotoran luwak yang masih berbentuk biji kopi dibersihkan dari berbagai kotoran, para pekerja akan mengolah biji kopi dengan melakukan roasting kopi secara tradisional dengan menggunakan tungku api dengan kayu bakar. Karena menggunakan tungku dan kayu bakar dipercaya, cita rasa kopi akan semakin meningkat dan menjadikan kualitas kopi menjadi lebih baik. Setelah semua proses selesai, bubuk kopi kemudian dilakukan pengemasan. Hari berikutnya kami masih mengunjungi beberapa agrowisata perkebunan kopi lainnya yang kebetulan lokasinya masih berada di Kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan dan sekitarnya.

Ternyata hingga selesai kegiatan yang kami lakukan, kami belum sempat mengunjungi Pantai Kuta dan Sanur yang tersohor itu, patung GWK serta destinasi wisata lainnya karena singkatnya waktu berada disana, tentu yang menjadi prioritas utama adalah menyelesaikan tugas yang dibebankan dari kantor terlebih dahulu namun beberapa bulan dari kunjungan pertama ke Bali. Tak disangka aku mendapatkan kesempatan kembali mengunjungi Bali atas undangan dari pihak kementerian yang kebetulan lokasinya disana. Tentunya di kunjungan ke-2 ini, kesempatan itu tidak aku sia-siakan untuk mengunjungi Pantai Kuta, Sanur dan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK).(**selesai**).

"/>"/>
"/> "/> "/> "/>

Monday, 5 October 2015

PEMBUKAAN LIWA FAIR 2015

Liwa Fair 2015 yang merupakan program terpadu publikasi dan promosi hasil pembangunan, yang telah dan sedang dicapai Pemkab. Lampung Barat, dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati Lampung Barat Drs. Mukhlis Basri, M.M, pada hari Rabu malam, tanggal 30 September 2015 beberapa waktu lalu. Acara yang merupakan ajang promosi daerah ini digelar selama 10 hari, dari tanggal 30 September hingga 10 Oktober 2015, berlangsung meriah.

Prosesi pembukaan dilangsungkan di Panggung Utama Liwa Fair dan dihadiri oleh para undangan dan pelaku dunia usaha. Setidaknya ada ribuan warga tumpah ruah memadati acara pembukaan Liwa Fair 2015 di Komplek Perkantoran Pemdakab tepatnya di Jalur Dua Perkantoran Pemda Lampung Barat dengan dimeriahkan oleh artis-artis KDI dari Ibu Kota Jakarta dan pagelaran seni budaya yang dikemas dengan Festival Skala Brak 2.

Hasil pemantauan di lapangan, tampak artis Irvan KDI bersama sejumlah artis KDI lainnya menyanyikan lagu dangdut yang populer, menghibur penonton dengan goyangan di setiap aksi panggungnya, membuat penonton terpukau karena keluwesan dan ke-energikan gerakannya pasalnya lagu dangdut sangat identik sebagai musik yang selalu memberikan goyangan. Terlihat artis KDI tersebut dengan lincahnya turun dari panggung berkeliling untuk menyapa para undangan yang terdiri dari Pejabat Pemkab, Muspida dan para undangan lainnya.

Event Liwa Fair ini diselenggarakan masih dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Lampung Barat yang ke-24, dikemas sedikit berbeda karena berbarengan dengan Festival Skala Brak. Sebagai informasi, selain sebagai ajang promosi potensi pariwisata Lampung Barat melalui kegiatan Festival Skala Brak dan pameran pembangunan ini, juga diisi dengan wahana hiburan keluarga seperti pasar malam, wisata kuliner serta konser seni budaya.

Thursday, 17 September 2015

Pemkab. Lampung Barat memecahkan rekor Muri dengan “Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak”

Liwa Coffe Festival kemarin, berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia). Festival yang diikuti 1.000 peserta, tercatat sebagai “Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak” lantaran melibatkan banyak peserta. Perhelatan akbar ini dibuka langsung oleh Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M, di pelataran halaman Kantor Kecamatan Air Hitam, Pekon Semarang Jaya, Kecamatan Air Hitam pada hari Rabu (16/9/2015) kemarin. Acara yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat guna meningkatkan produksi dan kualitas kopi robusta di Lampung Barat, selain itu juga sebagai ajang promosi dan publikasi kopi robusta Lampung Barat di tingkat nasional maupun global berlangsung cukup meriah dan sukses.

Tampak hadir dalam acara tersebut Bupati Lampung Barat, Wakil Bupati Lampung Barat, Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Lampung, Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Lampung Barat, Muspida Lampung Barat, Sekda Kabupaten Lampung Barat, Kepala Badan, Kepala Dinas, Kepala Kantor Lingkup Pemda Lampung Barat, Camat se-Kabupaten Lampung Barat, Peratin se-Kecamatan Air Hitam, Peserta Liwa Coffee Festival, Direktur PT. Nestle Lampung, Direktur PT. Indocafco Lampung, serta tim perwakilan Museum Rekor Indonesia (Muri) dari Jakarta.

Acara “Sangrai Kopi 1.000 Tungku” merupakan rangkaian kegiatan Liwa Coffee Festival dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Lampung Barat ke-24 yang jatuh pada tanggal 24 September 2015 pekan depan, dalam kesempatan itu juga dimeriahkan oleh atraksi seni-budaya etnik Lampung Barat. Selain itu masih banyak lagi rangkaian kegiatan dalam memeriahkan HUT Lambar yang telah dimulai dari tanggal 2 September lalu sampai dengan puncaknya pada tanggal 22 September 2015 dan berakhir hingga tanggal 10 Oktober 2015 nanti, dimeriahkan dengan serangkain acara mulai dari lomba olah raga prestasi yakni sepakbola antar kecamatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi PSSI Kabupaten Lampung Barat dan non prestasi yaitu olah raga tradisional, trail adventure team, jalan sehat, sepeda santai, sepeda gunung, lomba kreatifitas anak, donor darah, asah terampil antar kelompok tani dan KWT se-Kecamatan Lampung Barat, lomba PBB, serta Liwa Fair.

Dalam sambutannya, Bupati menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat telah berupaya keras dan terus menerus dalam meningkatkan produktifitas kopi robusta melalui berbagai program dan kegiatan baik yang bersumber dari dana APBN maupun APBD serta melakukan pembinaan-pembinaan di tingkat kelompok tani.

Ditambahkannya dalam hal pemasaran kopi, Kabupaten Lampung Barat, pemerintah telah memfasilitasi kemitraan dengan berbagai Eksportir sebagai upaya meningkatkan harga jual biji kopi, dimana harga kopi disesuaikan dengan mutu biji kopi sehingga selalu memperbaiki mutu kopi untuk petani memperoleh harga jual yang lebih tinggi.

Kemitraan antara petani kopi dengan Eksportir merupakan salah satu target kinerja yang harus dicapai oleh pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan. Saat ini tercatat sudah 5 Eksportir yang telah bermitra dengan Kelompok tani di Lampung Barat, yaitu: PT. Nestle Lampung, PT. Indocafco, PT. Louis Dreyfus Commodities, PT. Nedcoffee Indonesia Makmur Jaya dan PT. Armajaro Indonesia. Kelima mitra ini telah membina dan membeli kopi dari Kelompok Tani.

Audit dan Sertifikasi oleh lembaga profesional atas lahan kopi kita, menunjukkan bahwa usaha tani kopi yang kita geluti memenuhi kaidah-kaidah budidaya yang lestari dan berkelanjutan, sehingga penerimaan oleh konsumen diluar negeri akan semakin menguat yang pada akhirnya dapat memperbaiki daya saing produk kopi kita.

Sebagaimana diketahui sejak Tahun 2012 Kabupaten Lampung Barat baru memiliki sertifikat kopi organik satu kelompok yaitu Gapoktan Hulu Hilir di Kecamatan Air Hitam dan tahun 2015 telah bertambah menjadi 3 Kelompok Tani yaitu Gapoktan Krida Mandiri di Kecamatan Air Hitam dan Gapoktan Maju Jaya di Kecamatan Pagar Dewa. Kelompok tani ini adalah kebanggaan kita Lampung Barat karena satu-satunya komoditas perkebunan di Propinsi Lampung yang memiliki sertifikat organik.

Bupati juga mengharapkan melalui acara Liwa Coffee Festival dapat menjadi ajang promosi bagi kopi robusta Lampung Barat agar dapat dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun Internasional dan mendorong petani kopi Lampung Barat untuk lebih bersemangat mengembangkan dan meningkatkan produksi dan mutu kopi Lampung Barat yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani agar petani menjadi sejahtera.

Dalam kesempatan itu, Bupati mengucapkan terima kasih kepada peserta atas antusiasme dan keikutsertaannya dalam ajang acara “Sangrai Kopi 1.000 Tungku serta menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT. Nestle dan PT. Indocafco atas dukungannya dalam terselenggarannya acara liwa coffee festival.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ribuan penonton dan peserta tumpah ruah di pelataran halaman Kantor Kecamatan Air Hitam. Acara yang bertemakan “Bersama Kopi Robusta kita tingkatkan kesejahteraan masyarakat” dibuka dengan tari sembah, tari ini lazimnya digunakan sebagai penyambutan tamu undangan kehormatan yang dilakukan oleh lima penari remaja putri yang mengenakan pakaian khas Lampung. Mereka meliuk-liukan tubuhnya dengan gemulai. Kakinya yang kokoh melangkah ke kiri dan ke kanan mengikuti suara tabahuan gamelan etnik lampung yang mengiringinya.

Kantor Kecamatan berubah menjadi lautan manusia yang diramaikan oleh peserta maupun penonton yang ingin menyaksikan dari dekat acara tersebut. Kehadiran tim Muri dari Jakarta semakin memeriahkan suasana Liwa Coffe Festival tahun ini.

Insiden Mewarnai Saat Berlangsungnya Sangrai Kopi 1.000 Tungku

Usai sambutan Bapak Bupati Lampung Barat dan Laporan Paniti Penyelenggara, barulah acara yang ditunggu-tunggu dimulai namun beberapa menit sebelum acara dimulai Tim dari Muri Jakarta hampir rampung menyelesaikan tugasnya menghitung jumlah tungku yang digunakan untuk menyangrai kopi. Namun diluar dugaan hasil perhitungannya bahwa tungku tidak hanya berjumlah 1.000 saja, ternyata berjumlah cukup fantastis lebih dari 1.000 tungku yakni totalnya 1.049 tungku ada kelebihan 49 tungku. Sungguh pencapain yang spektakuler yang sebelumnya rekor Muri diraih Kabupaten Tabanan Provinsi Bali dengan 735 tungku.

Suara MC diatas panggung telah terdengar memberikan instruksi kepada peserta untuk segera memulai. Tampak peserta sibuk menyalakan kayu bakar ditungku perapian yang diatasnya ada wajan yang terbuat dari tanah liat yang telah diisi oleh biji kopi sebanyak 1 kg, bahan bakarnya menggunakan kayu bakar yang telah disiram dengan minyak solar kemudian disulut dengan korek api agar dapat cepat menyala. Terlihat kepulan asap putih bercampur sedikit hitam yang berasal dari kayu pembakaran mulai membumbung tinggi akibat diterpa angin hingga asap berhembus kesana kemari memenuhi lapangan, praktis peserta terhirup asap yang mengganggu pernapasan,matapun menjadi perih dan berair akibatnya.

Belum sempat hitungan jam tiba-tiba peserta sangrai ada yang mendadak jatuh pingsan, untungnya tidak jatuh tepat mengenai tungku perapian, tak lama kemudian diikuti oleh peserta lain menyusul, suasana menjadi panik pasalnya beberapa peserta lain banyak yang mengalami hal yang sama dalam waktu yang bersamaan, panitia dan petugas dibuat kewalahan. Belum sempat tuntas satu tiba-tiba dari arah lain peserta dan panitia ada yang menjerit meminta tolong untuk segera membawa peserta lainnya yang tak sadarkan diri (pingsan).

Dari informasi yang dihimpun, kebanyakan peserta yang pingsan akibat menghirup asap sehingga susah untuk bernapas lantaran oksigen berkurang pasalnya kepulan asap disana sini memenuhi lapangan tempat peserta melakukan sangrai ditambah lagi suasana terik matahari di siang hari menambah lengkap panas dan sesaknya suasana. Namun ketegangan dapat dikendalikan, berkat kesigapan petugas kesehatan (P3K) UPT. Puskesmas Kecamatan Fajar Bulan dan dibantu petugas medis dari Pusekesmas Pembantu (Pustu) Air Hitam serta panitia acara baik dari Disbun Lam-Bar dan Kecamatan Air Hitam. Suasana sempat menjadi chaos (kacau) akibat banyaknya korban berjatuhan namun tetap terkendali.

Dari pemantaun di lapangan tampak petugas kesehatan dengan dibantu panitia berjibaku bahu membahu mengangkat korban dan segera membawanya ke Posko Kesehatan kemudian petugas dengan sigap melakukan tindakan medis, setidaknya ada sekitar puluhan korban yang mengalami pingsan atau tak sadarkan diri akibat asap dan teriknya matahari saat itu.

Menurut informasi dari petugas kesehatan setidaknya 30-an orang mengalami pingsan dan 2 orang dirujuk ke Puskesamas Rawa Inap Fajar Bulan dengan dibawa mobil Ambulance Puskesmas Fajar Bulan yang telah stand by sejak pagi hari namun informasi terakhir yang didapat bahwa 2 orang yang dirujuk berasal dari Kecamatan Way Tenong dan telah pulang ke rumahnya masing-masing lantaran sudah siuman dengan kondisi sehat, “ Ada sekitar 30-an orang mas yang pingsan, kesemuanya akibat kekurangan oksigen,” kata salah seorang petugas medis.

Persiapan Menjelang Liwa Coffee Festival

Hari itu, masih terbilang pagi, udara dingin bercampur kabut pekat masih menyelimuti tempat sekitar kami berada, pagi itu dari rumah kupacu kendaraan sedikit agak cepat lantaran hendak tiba di kantor segera. Ada janji usai melaksanakan apel Senin pagi dan pengarahan dari pimpinan yang mesti aku tepati bersama rombongan dari kantor tempat ku bekerja untuk mempersiapkan detik-detik hari yang bersejarah yang akan kami capai 2 hari kedepan melalui serangkaian persiapan baik tempat, peralatan, mobilisasi peserta dan lainnya serta tak kalah pentingnya persiapan gladi-gladi kotor dan resik yang akan dilakukakan serta technical meeting untuk mengonsolidasikan dan memantapkan segala sumber daya yang ada, agar supaya pada saat waktunya nanti sesuai dengan harapan. Sejatinya persiapan menjelang hari H sudah berlangsung beberapa bulan sebelumnya namun menjelang detik-detik hari H persiapan lebih dimantapkan kembali.

Tak pelak jaket yang aku kenakan untuk melindungi dari dinginnya cuaca menjadi sedikit lembab lantaran kabut pekat bercampur embun menempel pada jaket dan bagian-bagian muka yang tak tertutup helm seperti pada wajah, alis dan bulu mata terasa berat digerakkan karena menempel bulir-bulir air berasal dari embun. Rasanya sedikit agak berat menggerakkan bulu mata. Pemandangan semacam ini sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa setiap pagi hendak berangkat menuju kantor, ibarat makan sudah menjadi sarapan pagi kami disini. Udara pagi bercampur kabut, mau tidak mau terhirup, perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit masuk ke rongga terasa dingin menyejukkan namun cukup menyesakkan dada, jarak pandang kami hanya beberapa radius beberapa meter saja akibat terhalangi oleh pekatnya kabut.

Ditambah suhu dingin terasa menembus tulang pasalnya di daerah kami bahkan di seluruh wilayah Indonesia sedang mengalami hal yang sama yaitu musim kemarau yang sudah beberapa bulan belakangan ini tidak juga kunjung hujan. Meskipun hujan sudah pernah turun di sebagian tempat namun masih bersifat lokal belum merata di seluruh wilayah, praktis bila malam menjelang pagi hari, suhu udara bertemperatur cukup dingin dibandingkan hari-hari biasa saat musim penghujan. Hanya butuh waktu 15 menit akupun tiba disana, rupanya teman-teman sudah ramai disana menunggu. Menurut informasi dari BMKG yang aku dapatkan perkiraan musim kemarau agak panjang bila dibandingkan tahun lalu dan puncak kemarau di Lampung Barat diprediksi terjadi pada bulan November dan suhu udara tahun ini berkisar 15, 4 ° C sampai dengan 28 ˚ C dibandingkan tahun lalu yang bertemperatur relatif tinggi 18 °C saja karena dampak terjadinya el-nino. Sangat wajar sekali tahun ini di tempat kami tinggal lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Bahkan mungkin seluruh Indonesia sedang mengalami musim yang sama.

Tepat pukul 11.30 WIB, kami bersama rombongan panitia lainnya telah berada di dalam mobil yang akan membawa kami ke lokasi, rencana awal kami akan menginap selama 2 malam namun karena sesuatu hal, kami putuskan untuk tidak jadi menginap ditunda keesokan harinya lantaran logistik yang berada di kantor belum semuanya rampung karena sebagian belum terangkut semua. Iring-iringan kendaraan mulai melaju secara konvoi.

Sekitar pukul 13.00 WIB bersama rombongan kami mampir sejenak untuk makan siang di restauran Fajar Bulan. Setelah rehat makan dan shalat Zuhur kemudian rombongan melanjutkan kembali perjalanan. Mulai dari Liwa hingga memasuki Kecamatan Air Hitam ada pemandangan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa, spanduk ucapan selamat datang terpampang besar di beberapa sudut jalan, pagar-pagar rumah milik warga dihiasi apik dengan umbul-umbul nan cantik dan menambah meriah suasana, layaknya ada pesta demokrasi yang dipusatkan ditempat tertentu biasanya lapangan sepabola misalnya, namun melihat dari spanduk yang terpampang barulah kita menyadari bahwa akan ada acara besar disana beberapa hari lagi. Ini merupakan rangkaian acara HUT Lampung Barat yang ke-24 yang akan jatuh pada tanggal 24 September 2015 nanti.

Hujan Membasahi Bumi yang dikenal sebagai salah satu sentra Kopi dan Gula Aren Lampung Barat

Usai penyerahan piagam penghargaan dari Muri kepada Bapak Bupati Lampung Barat, Bapak Sekretaris Daerah Lampung Barat serta Bapak Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat, ternyata masih ada acara lainnya yang tak kalah penting yaitu pemilihan pemenang lomba sangrai dan seduh terbaik yang merupakan penghujang acara yang menandai berakhirnya acara Liwa Coffee Festival. Adapun pemenang dalam lomba sangrai yang diikuti 15 Kecamatan se-Lampung Barat adalah Kecamatan Air Hitam memperoleh predikat terbaik pertama, Kecamatan Sumber Jaya terbaik kedua dan terbaik ke-3 diraih Kecamatan Way Tenong. Pemenang terbaik pertama, kedua dan ketiga berhak mendapat tropy dan uang pembinaan. Sementara untuk katagori seduh terbaik diraih Kecamatan Kebun Tebu, Kecamatan Gedung Surian Juara kedua, dan Belalau Juara ketiga.

Kira-kira pukul 13.45 acara selesai, tak lama kemudian tampak langit diatas Kecamatan Air Hitam yang tadinya cerah lambat laun mendadak mendung pertanda hari akan hujan. ketika panitia sedang memberesi peralatan dan perlengkapan di lokasi yang menjadi arena sangrai 1.000 tungku tak disangka hujan rintik-rintik mulai turun kemudian semakin lama intensitasnya semakin deras. Ada sekitar 20-an menit hujang turun cukup deras. “Alhamdulillah hujan jadi turun dan semakin deras aja, mudah-mudahan hujan merata sampai di Liwa juga,” ujar temanku berharap. Terlihat senyum mengembang menghiasi rona wajah orang-orang disekitarku, pantas saja karena mereka rupanya adalah penduduk setempat dan anak-anak serta famili mereka ada juga yang berada disana. “Di Air Hitam sudah lama gak turun hujan mas, sudah sejak sebelum puasa kemarin hingga hari ini, dan bersyukur sekali hari ini hujan benar-benar terjadi dan cukup deras,” ucapnya riang.

Rasanya terbayar sudah persiapan panjang dan melelahkan namun nyatanya tidak sia-sia pasalnya acara berjalan sesusai dengan harapan, lebih-lebih rasa syukur bertambah lagi dengan adanya hujan deras yang mengguyur bumi Kecamatan Air Hitam yang dikenal sebagai salah satu sentra Kopi Robusta dan Gula Semut ini, seakan melengkapi kebahagian dan rasa syukur kami. “Alhamdulillah Ya Allah yang telah memudahkan segala urusan hingga acara dapat berjalan sukses dan lancar tanpa kendala dan rintangan yang berarti,” doaku dalam hati. Tak terasa hari telah menjelang sore, hujanpun berangsur reda, kamipun bergegas pamitan pulang menuju Liwa yang merupakan Ibukota Kabupaten Lampung Barat, tempat dimana kami tinggal. Sekian