burung

Friday, 29 July 2016

Trip to Bali Island

Trip to Bali

Pengalaman yang mengesankan kunjungan ku ke Bali untuk pertama kali, media banyak menyebutkan pulau tersebut sebagai Pulau Dewata, Pulau Surga, Pulau Seribu Pura, Pula Magis serta sebutan-sebutan lainnya. Entah karena banyak pura-pura atau rumah peribadatan umat Hindu dan destinasi wisata disana sehingga jargon tersebut disematkan kepada pulau tersebut semenjak dahulu. Bahkan akhir-akhir ini Bali dinobatkan kembali dengan gelar baru dari Komite Perdamaian Dunia (WPC) menobatkan Pulau Bali sebagai Pulau Perdamaian.

Kebetulan waktu itu ada kegiatan perjalanan dinas di tempatku bekerja, lokasi kegiatan yang dipillih adalah pulau Bali, tanpa pikir panjang lagi ku sanggupi tugas tersebut, menyelam sambil minum air pikirku dalam hati. Tentunya setelah acara kantor selesai akan aku sempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang cukup terkenal disana, misal pantai Kuta, Sanur, Pura Tanah Lot dan patung GWK dan tempat-tempat menarik lainnya bila waktunya mencukupi.

Hari keberangkatan

Tiba hari keberangkatan, sore itu kami rombongan berlima dari kantor sudah memesan travel yang sama, tujuan Bandar Lampung karena keesokan paginya pesawat sekitar pukul 8-an dari Bandara Raden Intan II Branti akan take off ke Bali setelah transit dahulu di Jakarta. Sebenarnya kami berlima itu satu kantor namun berbeda tujuan, aku bersama 1 orang temanku ke Bali dan sisanya 3 orang ke Semarang namun hari keberangkatan dan kepulangan kami kebetulan saja bersamaan. Awalnya kami masih satu pesawat hanya saja pada saat transit di jakarta kami berpisah karena tujuan kami memang berbeda. Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta ke Denpasar Bali memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, kami menggunakan pesawat citi link. Keberangkatan dari Jakarta (Soekarno Hatta) Jam 16:40 WIB. Tiba di bali pukul 19.30 WITA, sudah agak larut malam karena kami transit di Jakarta sekitar 8 jam karena ada delay beberapa kali yang membuat kami bosan dan jenuh menunggu, dan kebetulan juga kami berganti maskapai penerbangan yang awal keberangaktan menggunakan pesawat Lion Air berganti maskapai penerbangan Citi Link.

Menginjakkan kaki pertama kali di Bandara International Bali terasa sekali atmosfir Bali yang cukup khas, mulai dari ukiran-ukiran dan arsitektur bangunan serta bau dupa berasal dari kayu cendana yang dipakai untuk sesaji yang diletakkan di beberapa bagian gedung di bandara mulai terhirup hidung. Malam semakin larut karena kami sempatkan dahulu mampir ke mini market yang ada di bandara untuk membeli perlengkapan serta makanan kecil selama di hotel. Untunglah kami di Bandara International Denpasar kami dijemput oleh agen biro perjalanan wisata yang kebetulan kami menggunakan jasa kebalilagi.com. Biro perjalanan yang sengaja dipilihkan oleh atasan kami, sehingga walau baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kami tidak merasa kuatir, takut atau was-was karena kami diservice oleh biro perjalanan tersebut.

Sebelum tiba di hotel kami memutuskan untuk makan malam, kebetulan kami minta dicarikan rumah makan masakan Jawa yang kami anggap menunya menyediakan yang masakan-masakan halal. Usai makan kami segera menuju ke hotel The Harmony Legian yang berada di Jalan Legian 191 Kuta Bali, kami menginap selama 3 malam disana. The Harmony Legian merupakan hotel bintang 3 yang lokasinya berada di Legian yang tak jauh dari lokasi Monumen Ground Zero Bali I (monumen bom bali I) di Jl legian Kuta, tepatnya di Paddy’s Pub dan di depan Sari Club kira-kira 400 M dari hotel tempat kami menginap. Setelah check in di hotel, malam itu tidak aku lewatkan kesempatan untuk keluar malam dengan memakai celana pendek layaknya turis kesasar, he..he, aku sendirian keluar tanpa ditemani kawanku karena dia sudah kecapaian dalam perjalanan sehingga memutuskan untuk istirahat saja.

Berbeda dengan temanku, aku malam itu justru tidak bisa tidur karena penasaran ingin melihat suasana malam di Legian yang sangat riuh ramai, hingar bingar suara musik karena di kawasan tersebut banyak pengujung turis mancanegara dan dipenuhi kafe dan club-club malam bertebaran di sepanjang kawasan tersebut. Jalan Legian Kuta salah satu pusat kehidupan malam di Bali, di sepanjang pinggir jalan banyak terdapat bar, diskotik, restoran, dan hotel. Hampir setiap malam jalan Legian tidak pernah sepi oleh wisatawan manca negara dan domestik yang gemar akan kehidupan malam.

Ada juga beberapa counter Tourist Information yang menyediakan brosur, voucher dan shuttle bus. Selain Tourist Information juga banyak pemuda di pinggir jalan yang menawarkan jasa rental kendaraan, belajar surfing. Beberapa meter melewati Monumen Bom Bali di sebelah ruko Billabong adalah the famous Poppies Lane II. Poppies Lane II adalah jalan kecil satu arah dari Pantai Kuta menuju Legian yang sebenarnya hanya bisa dilalui satu mobil. Sepanjang jalan ini bertebaran motel, hotel, restoran, pub, bar, Circle K, warnet, pembuat tatto dan kios-kios penjual surfing board dan cindera mata. Kita akan serasa memasuki suatu wilayah yang sangat asing terasa pasalnya di mana-mana bertebaran turis bule baik dari Asia maupun Eropa yang berbicara dengan bahasanya masing-masing. Puas berjalan kaki, tak terasa sudah hampir 2 jam aku berjalan sepanjang jalan legian, jam di HP ku telah menunjukkan pukul 12.15 WITA waktu WITA lebih cepat 1 jam dari WIB. Akhirnya aku sudahi saja perjalanan ku malam itu, untuk kembali ke hotel. Karena esok hari, masih banyak agenda perjalanan yang akan dilakukan.

Hari Pertama

Sekitar pukul 07.30 WITA selepas breakfeast di hotel, kami dijemput oleh driver namanya Mas Wahyu, orangnya ramah sekaligus guide (pemandu) kami disana dengan menggunakan mobil yang telah dipersiapkan. Sesuai jadwal kegiatan pagi itu kamai mengunjungi Bali Pulina Agrowisata, sebuah agrowisata yang dikemas dengan wisata perkebunan Kopinya, dimana Bali selain memiliki potensi keindahan alam dan adat budaya ternyata memiliki ragam variasi wisata lainnya antara lain di bidang agrowisata perkebunan kopi. Kunjungan ke Bali Pulina Agrowisata Perkebunan Kopi, yang terletak di Jl. Br. Pujung Kelod, Tegalang Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, yang dirintis sejak tanggal 12 Januari 2010, memiliki luas sekitar 1,5 ha, akan tetapi baru disahkan pada tahun 2011. Adapun harga tiket masuk bagi pengunjung Rp.100.000,- per orang, harga tersebut telah termasuk 8 jenis varian rasa kopi dan teh diatas dan dapat dipesan secara online melalui website resminya. Kedelapan jenis varian rasa kopi dan teh tersebut adalah lemon tea, ginger tea, ginger coffee, ginseng coffee, chocolate coffee, pure cocoa, vanilla coffee dan Bali coffee disajikan dalam cangkir secara berjajar dalam satu tatakan kayu agar pengunjung dapat menikmati terlebih dahulu sebelum memilih produk mana yang ingin dipesan. Selain mendapatkan kopi juga mendapatkan pisang goreng atau pisang rai (pisang kukus khas Bali) dan keripik nangka.

Di Bali Pulina terdapat 2 jenis hewan luwak yang ditangkarkan, ada yang berjenis injin dan ketan, nama jenis luwak tersebut berasal dari bahasa daerah setempat. Perawakan luwak injin bentuknya kecil agak panjang sedangkan ketan, bentuknya agak besar tetapi pendek. Pemberian makanan kepada kedua hewan ternak yang ditangkar di kandang penangkaran tersebut, jika pagi hari diberikan makanan berupa buah kopi yang sudah merah matang sedangkan jika siang dan malam hari diberikan buah-buah seperti pepaya dan pisang.

Di Agrowisata Bali Pulina tersebut juga melihat proses pembuatan kopi terutama kopi luwak yang diolah masih secara tradisionil. Para pengunjung agro wisata perkebunan kopi ini bisa ikut mencoba memetik buah kopi pada waktu panen, para pengunjung juga bisa mencoba melakukan berbagai tahapan pengolahan kopi yang ada. Setelah bubuk kopi dibuat, para pengunjung dapat langsung menikmati kopi olahan sambil menikmati pemandangan alam dengan suasana perkebunan. Selain tanaman kopi, ada juga kebun coklat, buah-buahan dan berbagai tanaman herbal. Dibuka mulai pukul 07.00 sampai dengan 19.00 WITA. Agrowisata ini dibuat bertujuan untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar serta membantu petani lokal untuk untuk menjual komodiatas kopinya.

Proses pengolahan setelah kotoran luwak yang masih berbentuk biji kopi dibersihkan dari berbagai kotoran, para pekerja akan mengolah biji kopi dengan melakukan roasting kopi secara tradisional dengan menggunakan tungku api dengan kayu bakar. Karena menggunakan tungku dan kayu bakar dipercaya, cita rasa kopi akan semakin meningkat dan menjadikan kualitas kopi menjadi lebih baik. Setelah semua proses selesai, bubuk kopi kemudian dilakukan pengemasan. Hari berikutnya kami masih mengunjungi beberapa agrowisata perkebunan kopi lainnya yang kebetulan lokasinya masih berada di Kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan dan sekitarnya.

Ternyata hingga selesai kegiatan yang kami lakukan, kami belum sempat mengunjungi Pantai Kuta dan Sanur yang tersohor itu, patung GWK serta destinasi wisata lainnya karena singkatnya waktu berada disana, tentu yang menjadi prioritas utama adalah menyelesaikan tugas yang dibebankan dari kantor terlebih dahulu namun beberapa bulan dari kunjungan pertama ke Bali. Tak disangka aku mendapatkan kesempatan kembali mengunjungi Bali atas undangan dari pihak kementerian yang kebetulan lokasinya disana. Tentunya di kunjungan ke-2 ini, kesempatan itu tidak aku sia-siakan untuk mengunjungi Pantai Kuta, Sanur dan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK).(**selesai**).

"/>"/>
"/> "/> "/> "/>

Monday, 5 October 2015

PEMBUKAAN LIWA FAIR 2015

Liwa Fair 2015 yang merupakan program terpadu publikasi dan promosi hasil pembangunan, yang telah dan sedang dicapai Pemkab. Lampung Barat, dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati Lampung Barat Drs. Mukhlis Basri, M.M, pada hari Rabu malam, tanggal 30 September 2015 beberapa waktu lalu. Acara yang merupakan ajang promosi daerah ini digelar selama 10 hari, dari tanggal 30 September hingga 10 Oktober 2015, berlangsung meriah.

Prosesi pembukaan dilangsungkan di Panggung Utama Liwa Fair dan dihadiri oleh para undangan dan pelaku dunia usaha. Setidaknya ada ribuan warga tumpah ruah memadati acara pembukaan Liwa Fair 2015 di Komplek Perkantoran Pemdakab tepatnya di Jalur Dua Perkantoran Pemda Lampung Barat dengan dimeriahkan oleh artis-artis KDI dari Ibu Kota Jakarta dan pagelaran seni budaya yang dikemas dengan Festival Skala Brak 2.

Hasil pemantauan di lapangan, tampak artis Irvan KDI bersama sejumlah artis KDI lainnya menyanyikan lagu dangdut yang populer, menghibur penonton dengan goyangan di setiap aksi panggungnya, membuat penonton terpukau karena keluwesan dan ke-energikan gerakannya pasalnya lagu dangdut sangat identik sebagai musik yang selalu memberikan goyangan. Terlihat artis KDI tersebut dengan lincahnya turun dari panggung berkeliling untuk menyapa para undangan yang terdiri dari Pejabat Pemkab, Muspida dan para undangan lainnya.

Event Liwa Fair ini diselenggarakan masih dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Lampung Barat yang ke-24, dikemas sedikit berbeda karena berbarengan dengan Festival Skala Brak. Sebagai informasi, selain sebagai ajang promosi potensi pariwisata Lampung Barat melalui kegiatan Festival Skala Brak dan pameran pembangunan ini, juga diisi dengan wahana hiburan keluarga seperti pasar malam, wisata kuliner serta konser seni budaya.

Thursday, 17 September 2015

Pemkab. Lampung Barat memecahkan rekor Muri dengan “Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak”

Liwa Coffe Festival kemarin, berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia). Festival yang diikuti 1.000 peserta, tercatat sebagai “Menyangrai Kopi di Tungku Terbanyak” lantaran melibatkan banyak peserta. Perhelatan akbar ini dibuka langsung oleh Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M, di pelataran halaman Kantor Kecamatan Air Hitam, Pekon Semarang Jaya, Kecamatan Air Hitam pada hari Rabu (16/9/2015) kemarin. Acara yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat guna meningkatkan produksi dan kualitas kopi robusta di Lampung Barat, selain itu juga sebagai ajang promosi dan publikasi kopi robusta Lampung Barat di tingkat nasional maupun global berlangsung cukup meriah dan sukses.

Tampak hadir dalam acara tersebut Bupati Lampung Barat, Wakil Bupati Lampung Barat, Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Lampung, Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Lampung Barat, Muspida Lampung Barat, Sekda Kabupaten Lampung Barat, Kepala Badan, Kepala Dinas, Kepala Kantor Lingkup Pemda Lampung Barat, Camat se-Kabupaten Lampung Barat, Peratin se-Kecamatan Air Hitam, Peserta Liwa Coffee Festival, Direktur PT. Nestle Lampung, Direktur PT. Indocafco Lampung, serta tim perwakilan Museum Rekor Indonesia (Muri) dari Jakarta.

Acara “Sangrai Kopi 1.000 Tungku” merupakan rangkaian kegiatan Liwa Coffee Festival dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Lampung Barat ke-24 yang jatuh pada tanggal 24 September 2015 pekan depan, dalam kesempatan itu juga dimeriahkan oleh atraksi seni-budaya etnik Lampung Barat. Selain itu masih banyak lagi rangkaian kegiatan dalam memeriahkan HUT Lambar yang telah dimulai dari tanggal 2 September lalu sampai dengan puncaknya pada tanggal 22 September 2015 dan berakhir hingga tanggal 10 Oktober 2015 nanti, dimeriahkan dengan serangkain acara mulai dari lomba olah raga prestasi yakni sepakbola antar kecamatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi PSSI Kabupaten Lampung Barat dan non prestasi yaitu olah raga tradisional, trail adventure team, jalan sehat, sepeda santai, sepeda gunung, lomba kreatifitas anak, donor darah, asah terampil antar kelompok tani dan KWT se-Kecamatan Lampung Barat, lomba PBB, serta Liwa Fair.

Dalam sambutannya, Bupati menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat telah berupaya keras dan terus menerus dalam meningkatkan produktifitas kopi robusta melalui berbagai program dan kegiatan baik yang bersumber dari dana APBN maupun APBD serta melakukan pembinaan-pembinaan di tingkat kelompok tani.

Ditambahkannya dalam hal pemasaran kopi, Kabupaten Lampung Barat, pemerintah telah memfasilitasi kemitraan dengan berbagai Eksportir sebagai upaya meningkatkan harga jual biji kopi, dimana harga kopi disesuaikan dengan mutu biji kopi sehingga selalu memperbaiki mutu kopi untuk petani memperoleh harga jual yang lebih tinggi.

Kemitraan antara petani kopi dengan Eksportir merupakan salah satu target kinerja yang harus dicapai oleh pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan. Saat ini tercatat sudah 5 Eksportir yang telah bermitra dengan Kelompok tani di Lampung Barat, yaitu: PT. Nestle Lampung, PT. Indocafco, PT. Louis Dreyfus Commodities, PT. Nedcoffee Indonesia Makmur Jaya dan PT. Armajaro Indonesia. Kelima mitra ini telah membina dan membeli kopi dari Kelompok Tani.

Audit dan Sertifikasi oleh lembaga profesional atas lahan kopi kita, menunjukkan bahwa usaha tani kopi yang kita geluti memenuhi kaidah-kaidah budidaya yang lestari dan berkelanjutan, sehingga penerimaan oleh konsumen diluar negeri akan semakin menguat yang pada akhirnya dapat memperbaiki daya saing produk kopi kita.

Sebagaimana diketahui sejak Tahun 2012 Kabupaten Lampung Barat baru memiliki sertifikat kopi organik satu kelompok yaitu Gapoktan Hulu Hilir di Kecamatan Air Hitam dan tahun 2015 telah bertambah menjadi 3 Kelompok Tani yaitu Gapoktan Krida Mandiri di Kecamatan Air Hitam dan Gapoktan Maju Jaya di Kecamatan Pagar Dewa. Kelompok tani ini adalah kebanggaan kita Lampung Barat karena satu-satunya komoditas perkebunan di Propinsi Lampung yang memiliki sertifikat organik.

Bupati juga mengharapkan melalui acara Liwa Coffee Festival dapat menjadi ajang promosi bagi kopi robusta Lampung Barat agar dapat dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun Internasional dan mendorong petani kopi Lampung Barat untuk lebih bersemangat mengembangkan dan meningkatkan produksi dan mutu kopi Lampung Barat yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani agar petani menjadi sejahtera.

Dalam kesempatan itu, Bupati mengucapkan terima kasih kepada peserta atas antusiasme dan keikutsertaannya dalam ajang acara “Sangrai Kopi 1.000 Tungku serta menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT. Nestle dan PT. Indocafco atas dukungannya dalam terselenggarannya acara liwa coffee festival.

Berdasarkan pantauan di lapangan, ribuan penonton dan peserta tumpah ruah di pelataran halaman Kantor Kecamatan Air Hitam. Acara yang bertemakan “Bersama Kopi Robusta kita tingkatkan kesejahteraan masyarakat” dibuka dengan tari sembah, tari ini lazimnya digunakan sebagai penyambutan tamu undangan kehormatan yang dilakukan oleh lima penari remaja putri yang mengenakan pakaian khas Lampung. Mereka meliuk-liukan tubuhnya dengan gemulai. Kakinya yang kokoh melangkah ke kiri dan ke kanan mengikuti suara tabahuan gamelan etnik lampung yang mengiringinya.

Kantor Kecamatan berubah menjadi lautan manusia yang diramaikan oleh peserta maupun penonton yang ingin menyaksikan dari dekat acara tersebut. Kehadiran tim Muri dari Jakarta semakin memeriahkan suasana Liwa Coffe Festival tahun ini.

Insiden Mewarnai Saat Berlangsungnya Sangrai Kopi 1.000 Tungku

Usai sambutan Bapak Bupati Lampung Barat dan Laporan Paniti Penyelenggara, barulah acara yang ditunggu-tunggu dimulai namun beberapa menit sebelum acara dimulai Tim dari Muri Jakarta hampir rampung menyelesaikan tugasnya menghitung jumlah tungku yang digunakan untuk menyangrai kopi. Namun diluar dugaan hasil perhitungannya bahwa tungku tidak hanya berjumlah 1.000 saja, ternyata berjumlah cukup fantastis lebih dari 1.000 tungku yakni totalnya 1.049 tungku ada kelebihan 49 tungku. Sungguh pencapain yang spektakuler yang sebelumnya rekor Muri diraih Kabupaten Tabanan Provinsi Bali dengan 735 tungku.

Suara MC diatas panggung telah terdengar memberikan instruksi kepada peserta untuk segera memulai. Tampak peserta sibuk menyalakan kayu bakar ditungku perapian yang diatasnya ada wajan yang terbuat dari tanah liat yang telah diisi oleh biji kopi sebanyak 1 kg, bahan bakarnya menggunakan kayu bakar yang telah disiram dengan minyak solar kemudian disulut dengan korek api agar dapat cepat menyala. Terlihat kepulan asap putih bercampur sedikit hitam yang berasal dari kayu pembakaran mulai membumbung tinggi akibat diterpa angin hingga asap berhembus kesana kemari memenuhi lapangan, praktis peserta terhirup asap yang mengganggu pernapasan,matapun menjadi perih dan berair akibatnya.

Belum sempat hitungan jam tiba-tiba peserta sangrai ada yang mendadak jatuh pingsan, untungnya tidak jatuh tepat mengenai tungku perapian, tak lama kemudian diikuti oleh peserta lain menyusul, suasana menjadi panik pasalnya beberapa peserta lain banyak yang mengalami hal yang sama dalam waktu yang bersamaan, panitia dan petugas dibuat kewalahan. Belum sempat tuntas satu tiba-tiba dari arah lain peserta dan panitia ada yang menjerit meminta tolong untuk segera membawa peserta lainnya yang tak sadarkan diri (pingsan).

Dari informasi yang dihimpun, kebanyakan peserta yang pingsan akibat menghirup asap sehingga susah untuk bernapas lantaran oksigen berkurang pasalnya kepulan asap disana sini memenuhi lapangan tempat peserta melakukan sangrai ditambah lagi suasana terik matahari di siang hari menambah lengkap panas dan sesaknya suasana. Namun ketegangan dapat dikendalikan, berkat kesigapan petugas kesehatan (P3K) UPT. Puskesmas Kecamatan Fajar Bulan dan dibantu petugas medis dari Pusekesmas Pembantu (Pustu) Air Hitam serta panitia acara baik dari Disbun Lam-Bar dan Kecamatan Air Hitam. Suasana sempat menjadi chaos (kacau) akibat banyaknya korban berjatuhan namun tetap terkendali.

Dari pemantaun di lapangan tampak petugas kesehatan dengan dibantu panitia berjibaku bahu membahu mengangkat korban dan segera membawanya ke Posko Kesehatan kemudian petugas dengan sigap melakukan tindakan medis, setidaknya ada sekitar puluhan korban yang mengalami pingsan atau tak sadarkan diri akibat asap dan teriknya matahari saat itu.

Menurut informasi dari petugas kesehatan setidaknya 30-an orang mengalami pingsan dan 2 orang dirujuk ke Puskesamas Rawa Inap Fajar Bulan dengan dibawa mobil Ambulance Puskesmas Fajar Bulan yang telah stand by sejak pagi hari namun informasi terakhir yang didapat bahwa 2 orang yang dirujuk berasal dari Kecamatan Way Tenong dan telah pulang ke rumahnya masing-masing lantaran sudah siuman dengan kondisi sehat, “ Ada sekitar 30-an orang mas yang pingsan, kesemuanya akibat kekurangan oksigen,” kata salah seorang petugas medis.

Persiapan Menjelang Liwa Coffee Festival

Hari itu, masih terbilang pagi, udara dingin bercampur kabut pekat masih menyelimuti tempat sekitar kami berada, pagi itu dari rumah kupacu kendaraan sedikit agak cepat lantaran hendak tiba di kantor segera. Ada janji usai melaksanakan apel Senin pagi dan pengarahan dari pimpinan yang mesti aku tepati bersama rombongan dari kantor tempat ku bekerja untuk mempersiapkan detik-detik hari yang bersejarah yang akan kami capai 2 hari kedepan melalui serangkaian persiapan baik tempat, peralatan, mobilisasi peserta dan lainnya serta tak kalah pentingnya persiapan gladi-gladi kotor dan resik yang akan dilakukakan serta technical meeting untuk mengonsolidasikan dan memantapkan segala sumber daya yang ada, agar supaya pada saat waktunya nanti sesuai dengan harapan. Sejatinya persiapan menjelang hari H sudah berlangsung beberapa bulan sebelumnya namun menjelang detik-detik hari H persiapan lebih dimantapkan kembali.

Tak pelak jaket yang aku kenakan untuk melindungi dari dinginnya cuaca menjadi sedikit lembab lantaran kabut pekat bercampur embun menempel pada jaket dan bagian-bagian muka yang tak tertutup helm seperti pada wajah, alis dan bulu mata terasa berat digerakkan karena menempel bulir-bulir air berasal dari embun. Rasanya sedikit agak berat menggerakkan bulu mata. Pemandangan semacam ini sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa setiap pagi hendak berangkat menuju kantor, ibarat makan sudah menjadi sarapan pagi kami disini. Udara pagi bercampur kabut, mau tidak mau terhirup, perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit masuk ke rongga terasa dingin menyejukkan namun cukup menyesakkan dada, jarak pandang kami hanya beberapa radius beberapa meter saja akibat terhalangi oleh pekatnya kabut.

Ditambah suhu dingin terasa menembus tulang pasalnya di daerah kami bahkan di seluruh wilayah Indonesia sedang mengalami hal yang sama yaitu musim kemarau yang sudah beberapa bulan belakangan ini tidak juga kunjung hujan. Meskipun hujan sudah pernah turun di sebagian tempat namun masih bersifat lokal belum merata di seluruh wilayah, praktis bila malam menjelang pagi hari, suhu udara bertemperatur cukup dingin dibandingkan hari-hari biasa saat musim penghujan. Hanya butuh waktu 15 menit akupun tiba disana, rupanya teman-teman sudah ramai disana menunggu. Menurut informasi dari BMKG yang aku dapatkan perkiraan musim kemarau agak panjang bila dibandingkan tahun lalu dan puncak kemarau di Lampung Barat diprediksi terjadi pada bulan November dan suhu udara tahun ini berkisar 15, 4 ° C sampai dengan 28 ˚ C dibandingkan tahun lalu yang bertemperatur relatif tinggi 18 °C saja karena dampak terjadinya el-nino. Sangat wajar sekali tahun ini di tempat kami tinggal lebih dingin dibandingkan tahun lalu. Bahkan mungkin seluruh Indonesia sedang mengalami musim yang sama.

Tepat pukul 11.30 WIB, kami bersama rombongan panitia lainnya telah berada di dalam mobil yang akan membawa kami ke lokasi, rencana awal kami akan menginap selama 2 malam namun karena sesuatu hal, kami putuskan untuk tidak jadi menginap ditunda keesokan harinya lantaran logistik yang berada di kantor belum semuanya rampung karena sebagian belum terangkut semua. Iring-iringan kendaraan mulai melaju secara konvoi.

Sekitar pukul 13.00 WIB bersama rombongan kami mampir sejenak untuk makan siang di restauran Fajar Bulan. Setelah rehat makan dan shalat Zuhur kemudian rombongan melanjutkan kembali perjalanan. Mulai dari Liwa hingga memasuki Kecamatan Air Hitam ada pemandangan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa, spanduk ucapan selamat datang terpampang besar di beberapa sudut jalan, pagar-pagar rumah milik warga dihiasi apik dengan umbul-umbul nan cantik dan menambah meriah suasana, layaknya ada pesta demokrasi yang dipusatkan ditempat tertentu biasanya lapangan sepabola misalnya, namun melihat dari spanduk yang terpampang barulah kita menyadari bahwa akan ada acara besar disana beberapa hari lagi. Ini merupakan rangkaian acara HUT Lampung Barat yang ke-24 yang akan jatuh pada tanggal 24 September 2015 nanti.

Hujan Membasahi Bumi yang dikenal sebagai salah satu sentra Kopi dan Gula Aren Lampung Barat

Usai penyerahan piagam penghargaan dari Muri kepada Bapak Bupati Lampung Barat, Bapak Sekretaris Daerah Lampung Barat serta Bapak Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat, ternyata masih ada acara lainnya yang tak kalah penting yaitu pemilihan pemenang lomba sangrai dan seduh terbaik yang merupakan penghujang acara yang menandai berakhirnya acara Liwa Coffee Festival. Adapun pemenang dalam lomba sangrai yang diikuti 15 Kecamatan se-Lampung Barat adalah Kecamatan Air Hitam memperoleh predikat terbaik pertama, Kecamatan Sumber Jaya terbaik kedua dan terbaik ke-3 diraih Kecamatan Way Tenong. Pemenang terbaik pertama, kedua dan ketiga berhak mendapat tropy dan uang pembinaan. Sementara untuk katagori seduh terbaik diraih Kecamatan Kebun Tebu, Kecamatan Gedung Surian Juara kedua, dan Belalau Juara ketiga.

Kira-kira pukul 13.45 acara selesai, tak lama kemudian tampak langit diatas Kecamatan Air Hitam yang tadinya cerah lambat laun mendadak mendung pertanda hari akan hujan. ketika panitia sedang memberesi peralatan dan perlengkapan di lokasi yang menjadi arena sangrai 1.000 tungku tak disangka hujan rintik-rintik mulai turun kemudian semakin lama intensitasnya semakin deras. Ada sekitar 20-an menit hujang turun cukup deras. “Alhamdulillah hujan jadi turun dan semakin deras aja, mudah-mudahan hujan merata sampai di Liwa juga,” ujar temanku berharap. Terlihat senyum mengembang menghiasi rona wajah orang-orang disekitarku, pantas saja karena mereka rupanya adalah penduduk setempat dan anak-anak serta famili mereka ada juga yang berada disana. “Di Air Hitam sudah lama gak turun hujan mas, sudah sejak sebelum puasa kemarin hingga hari ini, dan bersyukur sekali hari ini hujan benar-benar terjadi dan cukup deras,” ucapnya riang.

Rasanya terbayar sudah persiapan panjang dan melelahkan namun nyatanya tidak sia-sia pasalnya acara berjalan sesusai dengan harapan, lebih-lebih rasa syukur bertambah lagi dengan adanya hujan deras yang mengguyur bumi Kecamatan Air Hitam yang dikenal sebagai salah satu sentra Kopi Robusta dan Gula Semut ini, seakan melengkapi kebahagian dan rasa syukur kami. “Alhamdulillah Ya Allah yang telah memudahkan segala urusan hingga acara dapat berjalan sukses dan lancar tanpa kendala dan rintangan yang berarti,” doaku dalam hati. Tak terasa hari telah menjelang sore, hujanpun berangsur reda, kamipun bergegas pamitan pulang menuju Liwa yang merupakan Ibukota Kabupaten Lampung Barat, tempat dimana kami tinggal. Sekian

Thursday, 28 May 2015

Muli Mekhanai dan Duta Kopi Lampung Barat 2015

Ayu Monica asal SMA Negeri I Liwa Lampung Barat meraih gelar Duta Kopi Lampung Barat 2015 dalam malam puncak Grand Final Muli Mekhanai dan Duta Kopi yang digelar beberapa waktu lalu (19/5) di Lumbok Seminung Resort, Kecamatan Lumbok Seminung. Dalam even bergengsi ini, dibuka oleh Bapak Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan mewakili Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, M.M., meskipun demikian acara berlangsung cukup meriah.

Terbukti banyak warga rela berduyun-duyun, sejak sore telah memadati tempat untuk menyaksikan perhelatan akbar dari dekat. Hadir dalam kesempatan tersebut Staf Ahli Bupati, para pimpinan SKPD Pemkab. Lampung Barat, Forkopimda Lampung Barat, DPRD Kab. Lampung barat, Kadis Pariwisata OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan, Pers Lampung Barat, juga tak ketinggalan mantan Mekhanai Lampung Barat 2014, Muli Mekhanai Pesisir Barat 2015, Kadis Pariwisata OKU Selatan serta tak ketinggalan Bujang Gadis 2015 yang berasal dari tetangga jiran Lam-Bar yaitu Kab. OKU Selatan, dan segenap elemen masyarakat Lampung Barat.

Dalam salah satu sambutan tertulisnya, Bupati Lampung Barat menyatakan, even ini digelar sebagai ajang promosi wisata. Muli Mekhanai ini nantinya mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai Duta Pariwisata Kabupaten Lampung Barat guna mengenalkan potensi wisata yang ada di kabupaten ini ke luar daerah.

Prosesi Acara

Sekitar pukul 19.30 acara yang dinanti-nantikan tiba, hingga menjelang tengah malam berakhir. Acara diawali dengan sambutan Bupati Lampung Barat, kemudian dilanjutkan laporan panitia penyelenggara yang disampaikan oleh Kepala Dinas Poraparbud Kab. Lam-Bar, tak ketinggalan penampilan para penari yang membawakan tari kreasi yang ditampilkan oleh para penari energik, tarian ini merupakan persembahan dari Sanggar Setiwang yang cukup menyemarakkan even ini. Berikutnya para finalis Muli Mekhanai diberikan kesempatan unjuk kebolehan dalam public speaking guna memperkenalkan diri diatas panggung. Para peserta diberikan kesempatan mengambil satu pertanyaan yang telah disiapkan panitia dengan cara mengambil beberapa gulungan kertas secara random yang berisi pertanyaan ditaruh di tempat yang telah disediakan kemudian MC membacakan pertanyaan lalu peserta memberikan jawaban secara langsung. Tak cukup sampai disitu, para dewan juri pun masih diberikan kesempatan memberikan beberapa pertanyaan yang wajib dijawab oleh para peserta.

Adapun dewan juri ini merupakan juri-juri yang sangat kompeten dan memiliki kredibilitas serta kapasitas di bidangnya. Mereka berasal dari Dinas Pariwisata, Dinas Perkebunan, Dinas KBPP dan Pejabat Pemda lainnya, dari jawaban-jawaban peserta tersebut kemudian dievalusi serta disimpulkan oleh dewan juri dalam rangka memberikan penilaian secara objektif.

Rupanya dewan juri cukup kesulitan memberikan penilaian, terlihat mereka cukup alot dalam memutuskan pemenang pasalnya peserta disamping cantik-cantik dan tampan-tampan namun memiliki kemampuan intelektual yang cukup baik dan relatif merata diantara peserta. Sebelum pengumuman pemenang diselingi acara nyambai yang dibawakan oleh Ibu-ibu. Saat yang dinanti tiba adalah pengumuman pemenang, seluruh peserta tampil kemudian diberikan kesempatan kepada mantan Mekhanai Lampung Barat 2014 beserta Bujang Gadis OKU Selatan untuk menyematkan selempang kepada calon pemenang peraih juara pertama Muli dan Mekhanai 2015. Bersamaan itu, terdengar suara dentuman yang berasal dari kembang api, beberapakali terdengar dan terlihat jelas di atas langit Hotel Lumbok Resort. Sekejap rona cakrawala disekitarnya yang tadinya gelap mendadak menjadi terang benderang sebab memancarkan gradasi warna bak pelangi di malam hari. Rupanya tidak cukup sampai disitu saja, lampu laser yang diarahkan ke angkasa, sinarnya yang menyala berwarna putih hingga jarak radius beberapa meter masih terlihat jelas, turut menambah semarak dalam pengumuman pemenang, sungguh mendatangkan decak kagum penonton, pertanda puncak akhir dari acara grand final malam itu.

Pengumuman Pemenang

Sebagaimana diketahui, dari 16 pasang peserta ini yang akan dipilih meliputi katagori juara satu muli mekhanai, runer-up 1 dan 2 muli Lambar, juara satu, runer up satu dan dua mekhanai, juara atribut muli lambar, muli photogenic, muli persahabatan, muli favorite dan muli duta kopi serta duta kesehatan reproduksi sex.

Kamilina Syarif dan Deska Arya Dinata dan yang menyabet gelar juara 1 Muli dan Mekhanai 2015 yang keduanya utusan dari SMA N I Liwa dan SMA N 1 Way Tenong. Mereka menyisihkan 15 kontestan lain dari 16 pasang peserta. Keduanya resmi dinobatkan menjadi Muli dan Mekhanai Pariwisata Lampung Barat. Mereka diharapkan mengemban tugas mewakili Lambar dalam ajang serupa pada Festival Krakatau 2015 di Bandar Lampung nantinya.

Sedangkan katagori runner up 1 Mekhanai diraih oleh Rizki Pratama yang merupan perwakilan Kecamatan Sukau, sementara katagori runner up 1 Muli adalah Regina Aprilia Zulfikar dari SMAN I Liwa, sedangkan runner up 2 Mekhanai diraih oleh Raden Mas Mahardika dari SMAN I Way Tenong, untuk runner up 2 Muli Mutia berasal dari SMAN I Way Tenong. Sementara untuk Duta Kopi diraih oleh Ayu Monica, khusus untu duta kopi penilaian didasari pengetahuan dan wawasan tentang kopi. Sedangkan untuk Duta Kespro Sex, untuk Mekhanainya diraih adalah Deska Arya Dinata dari SMAN I Liwa, untuk Mulinya oleh Kelara Silvia Agustin, ke-2 nya berasal dari SMAN I Liwa. Sedangkan untuk katagori juara Muli Photogenic diraih oleh Donara Utari berasal dari SMAN I Liwa. Untuk katagori Muli Favourite adalah Putri Kartika yang berasal dari SMAN I Liwa, katagori Mekhanai Persahabatan adalah Muhammad Mahendra dari SMAN I Liwa, serta katagori Muli Mekhanai Berbakat Selly Egidia dan Gusti Revaliando.

Ajang Perdana Pemilihan Duta Kopi Lampung Barat

Inilah kali pertamanya Kabupaten Lampung Barat menyelenggarakan pemilihan duta kopi yang merupakan persembahan dari Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat dan Duta Kesehatan Reproduksi Sex persembahan dari PKBI Lampung Barat, acara ini digelar bersamaan dengan pemilihan muli mekhanai Lampung Barat 2015 yang merupakan even tahunan dari Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan kebudayaan Kab. Lambar.

Pemilihan Duta Kopi ini diharapkan dapat mempromosikan kopi Lampung Barat ke luar daerah sehinga dapat mendorong perkembangan pariwisata serta ekonomi kreatif. Muli Kopi ini juga diharapkan menjadi duta bagi industri kopi Lampung Barat serta ikut mempromosikan kopi Lampung Barat ke luar daerah. Menariknya pada even tahun ini, peserta seluruhnya berasal dari Kabupaten Lampung Barat dan tidak ada yang berasal dari luar daerah.

Pemilihan muli mekhanai Lampung Barat tahun 2015 terselenggara atas kerjasama Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan kebudayaan (Disporaparbud) Lambar dengan di didukung oleh Wardah inspiring beauty dan disponsori oleh Honda SKM Liwa dan BNPD (kelompok BNI, BRI, Bank Syariah Mandiri, bank eka, bank Mandiri, dll). Dengan dimeriahkan oleh berbagai acara adat budaya seperti nyambai dan tari tarian kreasi Lampung Barat persembahan dari sanggar setiwang.

Tujuan dan Sasaran

Even pemilihan muli mekhanai 2015 dimaksudkan untuk menggali potensi muli mekhanai yang mempunyai minat di bidang show biz dan sebagai wahana penyaluran bakat serta kreasi dalam hal-hal yang positif serta mengajak muli mekhanai Lambar lebih mengenal dan mencintai seni serta budaya daerah khususnya Lampung Barat. Ajang tersebut juga untuk mengetahui kepariwisataan daerahnya sehingga nantinya sebagai duta wisata diharapkan dapat mempromosikan objek wisata dan budaya lambar keluar daerah.

Sementara sasaran kegiatan ini diharapkan dapat mengingatkan pemahaman muli mekhanai lambar terhadap arti pentingnya kepariwisataan dan seni budaya dengan pengembangan kepariwisataan Kabupaten Lampung Barat. Sedangkan aspek penilaian yakni performance meliputi etika berbusana, catwalk, tata rias, fashion, photo style, kemudian kecakapan meliputi pengetahuan tentang kepariwisataan dan kebudayaan, wawasan dengan pengetahuan populer, dan talent show (ujuk bakat). Adapun aspek penilain yaitu personality yang meliputi, table manner (jamuan makan malam), public speaking, dan etika pergaulan.

Warga sangat Antusias

Dari pemantauan di lapangan, antusiasme warga tampak cukup tinggi, pasalnya mereka rela berlam-lama menunggu sejak sore bahkan tak ketinggalan juga dari penjuru luar kecamatan pun ada yang menyempatkan datang, meskipun lokasi relatif jauh dari pemukiman penduduk sementara acara baru digelar pada malam harinya. Rupanya tak menyurutkan langkah mereka untuk mengambil bagian dalam memberikan dukungan moril selaku supporter pemenangan dari sanak keluarga mereka yang mengikuti ajang bergensi tersebut.

“Saya dari Liwa mas, sudah dari sore tadi saya berangkat, kebetulan ada ponakan yang ikut,” kata seseorang. Mereka kebanyakan membawa beberapa anggota keluarga, kerabat, serta handai tolan guna memberikan support dalam mendukung penampilan sanak saudaranya di atas panggung yang ikut ajang pemilihahan Muli Mekhanai tersebut. Menariknya, panita mengemas acara ini melalui panggung ‘on the open air stage’, dengan dimeriahkan oleh penataan lighting lamp yang tertata apik, menambah meriah dan hingar bingarnya suasana serta di pandu oleh MC yang berpengalaman yang cukup menghipnotis dan memukau para penonton. Untunglah malam itu cuaca cukup cerah bahkan dari pagi, sore hingga malam harinya cuaca cukup bersahabat, seakan ingin memberikan dukungan datangnya malam puncak grand final Muli Mekhanai 2015. “Alhamdulillah malam ini tidak hujan, cuaca cukup cerah, kalau tidak, jadi apa acara malam ini,“ ujar salah seorang pengunjung menyeletuk.

Cukup beralasan memang, pasalnya even tahun ini digelar tidak biasa, mengapa? Sebab tahun ini dilaksanakan di atas panggung terbuka, yang tahun-tahun sebelumnya diadakan in door namun tahun ini out door. Sehingga jika hujan turun dapat dipastikan acara dapat terganggu. Padahal menurut informasi di beberapa tempat hujan sudah mulai turun. Seperti yang terjadi pada rombongan kami dari Liwa, saat hendak berajak dari kantor menuju lokasi, kami dihadapkan oleh hujan yang mengguyur cukup deras dan cukup lama tak kunjung reda namun tak menyurutkan langkah kami untuk kesana. Hingga mewarnai perjalanan menuju tempat tujuan. Namun untunglah baru setengah perjalanan tidak lama kemudian reda hingga kami tiba disana dengan disambut dengan cuaca cerah dan bersahabat serta view pemandangan danau ranau Lumbok Seminung dikala dibi yang indah dan mempesona setiap mata memandang.

Glossary : daftar kata

On the open air stage = di panggung terbuka

Random = acak

in door = dalam ruangan

Out-door = di luar ruangan

view = pemandangan

Dikala dibi = berasal dari bahasa Lampung yang memilik arti dikala sore