burung

Thursday, 1 February 2018

JALAN-JALAN KE KRL SAMBIL MELONGOK SEJENAK BERBAGAI KOLEKSI TANAMAN ENDEMIK PULAU SUMATERA YANG ADA DI KEBUN RAYA LIWA



Sebagai salah satu upaya pemerintah terhadap pelestarian alam terutama tanaman endemik di Lampung Barat khsususnya dan Pulau Sumatera umumnya agar tidak punah tergerus akibat modernisasi, deforestasi serta degradasi lahan sehingga dapat dinikmati anak cucu kita dikemudian hari nanti. Tidak dipungkiri lagi, keberadaan Kebun Raya di Lampung Barat merupakan salah satu upaya yang tepat yang dilakukan pemerintah guna menjawab fenomena yang terjadi agar komitmen segenap pihak atas pelestarian tumbuhan yang ada di Pulau Sumatera dapat diwujudkan secara nyata dan berkesinambungan serta berkelanjutan.


Beberapa waktu lalu, di penghujung tahun 2017 silam telah di-launching Kebun Raya Liwa (KRL) pada tanggal 5 Desember 2017. Merupakan kado terindah bagi masyarakat Lampung Barat di era kepemimpinan tahun terakhir Bapak Bupati Lampung Barat, Drs. Mukhlis Basri, MM dan Wakil Bupati Lampung Barat, Drs. Makmur Azhari atas peluncuran KRL yang merupakan kebanggaan masyarakat Lampung Barat khususnya dan Provinsi Lampung umumnya, dan KRL resmi menjadi pusat konservasi tumbuhan (center for plant conservation botanical gardens) sebagai tempat konservasi keanekaragaman hayati dan penyelamatan kekayaan flora endemik yang ada di Kabupaten Lampung Barat yang juga merupakan salah satu kabupaten konservasi.


Seiring dari tekanan yang tinggi terhadap ekosistem dan kawasan konservasi in situ menuntut dilakukannya pembangunan kawasan-kawasan konservasi ex situ yang baru. Salah satu bentuk konservasi tumbuhan secara ex situ adalah kebun raya ini. Kebun raya tidak hanya memiliki fungsi konservasi (conservation) saja, tetapi juga melakukan fungsi penelitian (research), pendidikan (education), wisata dan jasa lingkungan (recreation and ecotourism). Tumbuhan atau tanaman endemik itu sendiri merupakan tumbuhan asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah wilayah geografis tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lainnya.







Sebagaimana dilansir pada laman website resmi LIPI (Lembaga Penelitian Indonesia) Bidang Pengembangan Kawasan Konservasi Tumbuhan Ex Situ Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya diketahui Kebun Raya Liwa (KRL) terletak di Desa Pekon Kubu Perahu, Kec. Balik Bukit, Liwa - Kabupaten Lampung Barat, memiliki luas lahan mencapai 86 ha dengan tema “Tanaman Hias Indonesia.” Sejak tahun 2007 pengelolaan Kebun Raya Liwa diserahkan kepada Dinas kehutanan sampai dengan 2016. Pada tanggal 3 Januari 2017, UPT Pengelola Kebun Raya Liwa diserahkan kepada Badan Litbang Kabupaten Lampung Barat.

Kebun Raya Liwa terletak pada ketinggian 800-900 m dpl dengan tapak bergelombang serta kemiringan lereng cukup terjal. Saat ini Kebun Raya Liwa telah memiliki area koleksi tanaman yang ditanam di Vak I, Vak II, Vak III, dan Vak IV ditambah area baru yaitu Vak V dan Vak VI yang baru saja dibuka. Selain itu Kebun Raya Liwa juga memiliki taman seperti Taman Araceae, Taman Obat Mini, Taman Rumput Bali, dan Taman Hias. Kebun Raya Liwa juga memiliki koleksi Anggrek dan pembibitan yang terdapat di dalam Rumah Paranet, serta memiliki fasilitas penunjang berupa kantor. (sumber : portal resmi LIPI yang beralamat di http://kebunrayadaerah.krbogor.lipi.go.id/kebun-raya-liwa).

KEBUN RAYA LIWA MULAI DIBUKA UNTUK UMUM
Kebun Raya Liwa merupakan salah satu dari beberapa kebun raya yang dikelola pemerintah daerah dalam hal ini Balitbangda Kabupaten Lampung Barat, pasca launching beberapa waktu lalu sudah dapat dikunjungi meskipun semua sarana prasarana di areal KRL belum rampung pembangunannya. Hal ini pernah ditegaskan oleh Kepala Balitbang Kabupaten Lampung Barat dihadapan para peserta apel yang terdiri dari staf THLS, ASN dan seluruh pejabat struktural yang hadir dalam kesempatan mengambil apel pagi pada hari Senin, tanggal 11 Desember 2017 tahun lalu di Lapangan Upacara Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat.

Dalam kesempatan itu Beliau menyampaikan bahwa Kebun Raya Liwa dapat dikunjungi oleh masyarakat umum (terbuka untuk umum) meskipun sarana dan prasarana masih dalam proses pengerjaan pasalnya belum semuanya rampung dikarenakan pembangunan semua fasilitas pendukung dalam kawasan KRL ini ditargetkan akan selesai dan lengkap pada akhir tahun 2019 yang akan datang.


Meskipun baru dilaunching Kebun Raya Liwa, keberadaan Kebun Raya Liwa dapat menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat Lampung Barat dan Provinsi Lampung umumnya, dimana KRL ini dapat diintegrasikan dengan Taman Kota Hamtebiu yang merupakan paru-paru kota Liwa karena berada di jantung Kota Liwa,  tidak jauh dari lokasi KRL tepatnya di sisi utara kebun raya sehingga setidaknya bisa mendukung perekonomian masyarakat sekitar agar dapat tumbuh menggeliat dengan terciptanya lapangan kerja baru.


Sebagai salah satu wisata edukasi, pada tahun ini KRL telah dibangun dan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang lainnya termasuk taman tematik, tanaman hias, kantor dan serta koleksi tanaman lainnya dan pada tahun 2019 diperkirakan pembangunan sarana prasarana di areal KRL ditargetkan rampung dan lengkap guna mempercantik taman di areal KRL tersebut.
KRL DI WAKTU SENJA 
Sore itu langit di KRL terbilang mendung karena baru saja diguyur hujan siang harinya, cuaca dingin masih terasa berbarengan dengan hembusan serta terpaan angin yang terbilang kencang mungkin karena letak geografisnya diatas bukit yang berada di ketinggian sekitar 800 hingga 900 meter diatas permukaan laut (mdpl) yang menyebabkan temperatur disana cukup dingin lantaran hembusan angin cukup kencang dibandingkan dengan daerah yang berada di bawahnya.

Cuaca sore saat itu berkabut dari kejauhan bukit barisan yang berwarna hijau tampak samar-samar terlihat tak begitu jelas karena diselimuti oleh kabut tebal berwarna putih bersih sehingga mengganggu jarak pandang mata memandang. Lain halnya bila cuaca cerah pemandangan Bukit Barisan nan hijau yang dipenuhi pepohonan tampak jelas karena jaraknya sangat dekat dari kawasan KRL.

Semakin sore kabut semakin tebal tampak seperti asap putih mengepul berjalan perlahan, sedikit demi sedikit bergerak mendekati kawasan areal di KRL, perlahan namun pasti kabut berangsur-angsur memenuhi jengkal demi jengkal sebagian besar kawasan KRL. Cuaca sejuk bercampur dingin serasa menembus tulang meskipun jaket yang aku kenakan terbilang tebal namun cukup membantu mengusir hawa dingin, walau sejatinya masih saja tetap terasa. Setidaknya bila kesana di sore hari direkomendasikan untuk mengenakan jaket sebagai penghangat badan. Kondisi ini sebenarnya merupakan hal yang umum dan lumrah dan kerap kali terjadi disana dan merupakan kondisi umum KRL menjelang senja.


Pantauan di lapangan terpantau pengunjung pada sore hari terlihat ramai lebih-lebih bila hari tidak hujan. Demikian halnya juga pada akhir pekan Sabtu dan Minggu dan hari libur nasional lainnya, puncak kunjungan teramai tercatat pada libur tahun baru 2018 kemarin, banyak pengunjung menghabiskan waktunya mengisi liburan baik tua-muda, maupun remaja dengan melakukan melakukan swa foto (selfie) yang sangat digandrungi anak-anak muda maupun orang tua zaman old and now sambil menikmati pemandangan alam di sekitar KRL.


Terbukti pada libur tahun baru 2018 kemarin merupakan kunjungan teramai yang terjadi di KRL pasalnya pengunjung membludak tumpah ruah dibandingkan dengan hari-hari biasa. Moment tahun baru kemarin merupakan puncaknya kunjungan tertinggi di KRL, ternyata selain ke pantai banyak pengunjung menghabiskan waktu tahun baruan di KRL, walaupun petugas KRL tidak menyiapkan event khusus namun pengunjung tetap ramai. Pantauan di lokasi terlihat tidak ada persiapan khusus menyambut tahun baru kemarin karena pemda setempat memusatkan perayaan di Danau Asam, Kecamatan Suoh sehingga di KRL khususnya dan Liwa umumnya tidak dipersiapkan untuk event tahunan tersebut.



Nampaknya KRL tidak menggelar acara khusus hanya terdapat beberapa salon-salon berikut sound sytem yang dipajang dengan ditata dan disusun bertingkat di depan pelataran halaman gedung KRL yang cukup luas, dengan beberapa lagu-lagu yang diputar walau terkesan sederhana namun tidak mengurangi kemeriahan bahkan menarik perhatian pengunjung menikmati dan menghabiskan waktu liburan di kawasan KRL. Ditambah lagi di lokasi KRL pengunjung bisa masuk ke dalam lokasi tanpa dipungut biaya alias gratis sehingga bisa sepuasnya melakukan kegiatan-kegiatan positif sembari melihat-lihat koleksi tanaman karena letaknya berada di dataran tinggi sehingga sangat cocok sekali untuk beristirahat dan bersantai ria menghirup udara segar serta yang tidak kalah penting adalah mentaburi maha karya alam ciptaan Allah SWT.


Mayoritas pengunjung berasal dari Kecamatan Balik Bukit dan sekitarnya namun dari luar Lampung Barat dan dari kabupaten tetangga pun banyak yang berdatangan  bahkan dari Bandar Lampung juga ada. Sebut saja Tomi (22 tahun) bersama teman-temannya, mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Lampung, “Saya dengan teman-teman dari Karang kebetulan ada keperluan di Liwa, jadi sekalian aja kami liat-liat KRL,” akunya singkat yang diamini rekan-rekannya. Kebanyakan pengunjung rata-rata beralasan sama, mereka penasaran dengan keberadaan KRL yang sering mereka liat dan dengar melalui medsos sebagai salah satu tempat favorit baru di Lampung Barat untuk berswa foto, kongkow-kongkow bersama teman di lokasi dan kegiatan lainnya.Terlihat kendaraan baik roda 2 dan bahkan roda 4 parkir di tempat yang telah disediakan secara gratis buat pengunjung, mulai dari plat BE hingga BG mendominasi serta plat nopol (nomor polisi) yang berasal dari penjuru kabupaten lain luar Provinsi Lampung terlihat ikut meramaikan kawasan KRL.






Monday, 11 December 2017

PENGALAMAN TERBANG YANG MENDEBARKAN


TRUE AND REAL STORY, DIARY ROAD TO BATAM


Jelas sekali masih terngiang di benakku hingga kutorehkan coretan ini. Rasanya sulit untuk dilupakan pengalaman buruk terbang ditengah cuaca yang kurang mendukung, kalau tidak mau dibilang buruk, aku berharap cukup sekali ini saja mudah-mudahan tidak terulang kembali pengalaman buruk yang sangat mendebarkan.  Tentunya setelah kejadian itu membuatku sedikit trauma namun bukan berarti kapok atau jera melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang di kesempatan lain tugas kedinasan.
Hari itu hari Jumat siang tanggal 8 Desember 2017. Aku bersama teman-teman berencana akan pulang ke Lampung setelah beberapa hari berada di Kota Batam, disana tentunya dalam rangka tugas dinas luar memenuhi undangan. Awalnya kami hanya bertiga, saya dan 2 orang lainnya dari Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah. Namun setelah berada di Bandara Branti, bertambah menjadi 9 orang. Mereka berasal dari Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 2 orang dan dari propinsi 3 orang sehingga totalnya menjadi 9 orang.
Sebelumnya tiket pesawat sudah kami pesan PP (Pulang dan Pergi) dari jauh hari, memang cukup beralasan mengapa kami pesan PP? Hanya untuk menghindari kehabisan tiket pada saat pulang pada hari penutupan acara nanti. Acara yang akan kami sambangi ini, pesertanya berasal dari wilayah Sumatera dan sebagian lainnya berasal dari propinsi di pulau Jawa. Sehingga dikuatirkan akan terjadi lonjakan besar penumpang memesan tike pulang alias full booking padahal itu hanya kekuatiranku saja faktanya tidak demikian. Perkiraan kami rupanya salah, beberapa panitia disana banyak yang menawarkan tiket untuk kepulangan bahkan sengaja diumumkan lewat tulisan yang ditempel pada meja panitia.
INSIDEN DITENGAH PENDARATAN PESAWAT MENGALAMI TURBULENCE

Menurut schedule pada hari itu pukul 11.00 WIB kami sudah take off dari Bandara Internasional Hang Nadim menuju Bandara Internasional Branti, jika lancar perjalanan ke Batam memakan waktu sekitar 1 jam, 7 menit, ternyata mengalami delay sehingga terjadi perubahan jadwal keberangkatan. Semestinya pukul 11.00 WIB menjadi pukul 13.40 WIB dan diperkirakan pukul 14.47 kami tiba di Bandara Internasional Branti. Ternyata diluar dugaan, jam tangan kami menunjukkan pukul 15.50 kami tiba, sehingga mengalami keterlambatan kurang lebih 1 jam-an lebih, hal ini terjadi akibat pesawat mengalami beberapa kali hambatan pada saat hendak landing di runway bandara oleh karena adanya cuaca buruk sehingga pesawat mengalami turbulence beberapa kali.  Alhasil pesawat yang kami tumpangi ini sudah 2 kali mencoba melakukan pendaratan namun gagal namun pada pendaratan ke-2, setelah melewati berbagai rintangan yang cukup membuat adrenalin terpacu dan jantung serasa copot karena berdegup kencang, akhirnya pesawat dapat landing sukses tanpa terjadi sesuatu apapun penumpang dan pesawat semuanya dalam keadaan aman.
Ceritanya pada pagi menjelang siang, acara penutupan selesai jam 9-an. Ada jeda waktu sekitar 2 jam. Perjalanan dari hotel menuju bandara hanya memakan waktu 30 menit jika dalam keadaan normal alias tidak macet. Kami segera bergegas ke kamar untuk mempersiapkan kepulangan. Pakaian kotor yang belum sempat dicuci, serta menyusun berbagai barang yang kami beli terlihat masih berantakan disana-sini. Satu persatu semuanya disusun rapi kedalam travel bag serta sisanya karena tidak muat di dalam tas sehingga dimasukkan ke dalam kardus agar memudahkan untuk membawanya dalam perjalanan. Setelah segala sesuatunya beres, kami segera menghubungi taxi yang khusus standby di hotel. Tidak susah kami mencari taxi pasalnya disana banyak taxi, bus bandara dan travel yang banyak kita temukan di sekitar hotel. Untungnya di hotel tempat kami menginap disediakan taxi information sehingga kami tinggal mendatangi dan bertanya kepada petugas disana. Tidak beberapa lama mobil yang akan membawa kami ke bandara tiba dan siap mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Sebenarnya rombongan kami dari Lampung yang diundang berjumlah 9 orang yang rinciannya 6 orang dari kabupaten/kota ditambah 3 orang lagi dari propinsi. Awalnya kami masih bersama-sama namun setelah tiba di hotel Harmony one tempatku menginap rupanya ke- 5 orang ini saja kemana-mana senantias selalu bersama, hal ini dikarenakan kamar-kamar yang kami tempati tidak berjauhan sementara yang lainnya cukup berjauhan satu sama lain. Kamar memang dari awal telah ditentukan oleh pihak panitia. Praktis kami tidak dapat memilih sesuai keinginan. Sehingga ke-5 orang ini saja, selalu kemana saja bersama namun tidak demikian bila di ruangan kami masing-masing berbaur dengan peserta lainnya yang berasal dari propinsi lain. Pada saat hari kepulangan, rupanya teman yang 2 orang ini, memiliki planning lain, mereka hendak melancong ke Singapura yang jaraknya tidak terbilang jauh hanya 45 menit saja perjalanan menggunakan speedboat untuk tiba disana. Sementara kami yang 3 orang, sesuai rencana pulang ke Lampung setelah acara dinas selesai karena memang dari awal kami tidak berencana pergi ke Singapura.
PESAWAT TERASA SEAKAN-AKAN TERJUN BEBAS JATUH DARI KETINGGIAN
Siang itu cuaca di Batam cukup bersahabat pasalnya sinar matahari pagi hari itu kami rasakan cukup terik, terlihat hanya sedikit mendung saja beberapa bagian langit, suhu pada HP androidku menunjukkan 25 derajat celcius. Artinya cuaca memang cukup baik untuk terbang, namun siapa sangka setelah hampir 1 jam lepas landas dari Bandara Internasional Hang Nadim dan ketika pesawat hendak landing di Bandara Internasional Branti, Pilot memberitahukan cuaca buruk dan berawan.
Dari corong pesawat kru pesawat tiba-tiba menginformasikan bahwa tidak memungkinkan melakukan pendaratan akibat cuaca buruk karena berawam dan berlangsung hujan cukup deras sehingga diputuskan menungu 10 hingga 15 menit lagi untuk mendarat. Sembari menunggu informasi cuaca layak untuk landing dari menara Air Traffic Control (ATC) namun jika masih tidak memungkinkan pesawat akan berbalik arah mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Pada saat pesawat hendak landing episode berikutnya dimulai dan pesawat bergumul dengan awan tebal. Pesawat menaikkan ketinggian dan berhasil melewati awan tebal, apakah ini yang dinamakan awan Cumulonimbus atau bukan aku tidak tau persis. Tak lama kemudian turbulence (goncangankembali..

Sontak saja seluruh penumpang dibuat panik pasalnya terasa sekali pada saat pesawat mencoba untuk landing. Pramugari memeriksa satu persatu memastikan sabuk penumpang apakah sudah terpasang dengan baik dan benar, lagi-lagi pesawat menumbur awan putih sehingga terjadi turbulence, awalnya hal itu kami anggap biasa seperti halnya kalau kita naik mobil di jalan berlubang seperti itulah rasanya. Sebagian penumpang masih bisa tertawa bahkan ada yang sempat bercanda-canda kecil, namun lama kelamaan keadaan semakin gawat pasalnya turbulence semakin kuat, seakan-akan pesawat susah untuk dikendalikan sang Pilot, dan akan terjun bebas dari ketinggian beratus-ratus meter bahkan mungkin beribu kilometer, demikian pikiranku berkecamuk dalam hati. 

Kebetulan disamping tempat dudukku kursinya kosong, karena tremor cukup keras, sontak saja pramugari yang semula berdiri mengecek penumpang , salah satu pramugari itu cepat-cepat duduk di kursi sebelahku dan seketika itu juga dengan replek memasang sabuk pengaman. Temanku sempat bertanya kepada pramugari, “Mbak apakah memang sering terjadi seperti ini,” tanyanya. Pramugari menjawab, “Baru kali ini pak,” ucapnya singkat, rupanya dia pun cukup panik terlihat ekpresi raut wajahnya. Rasanya seperti kita jatuh dari ketinggian kemudian naik kembali atau seperti naik rollercoaster yang jantung rasanya mau copot jantung ini ketiak pesawat turun dan naik kembali. Kembali suasana semakin tegang, ketika pesawat turbulence kembali lebih keras dari pendaratan yang pertama sontak saja penumpang panik dan shock, masing-masing berdoa demi keselamatan pesawat dan penumpang, tak terkecuali aku.  

Mungkin akulah yang terlihat sangat panik dan takut walaupun rasa takut itu aku sembunyikan, namun tidak ada pilihan lain kecuali berpasrah diri kepada Sang Maha Pencipta Allah SWT, Sang penentu hidup dan mati, tak henti-hentinya aku memanjatkan doa agar pesawat tidak mengalami hal-hal yang buruk. Karena berulangkali Turbulance dalam durasi waktu berdekatan, hanya istighfar dan berdoa yang dapat aku lakukan, demikian pula teman disebelahku pun sama. Beberapa detik kemudian karena pesawat tidak dapat landing, pesawat naik kembali dari ketinggian, barulah kemudian pesawat tidak mengalami turbulence. Pesawat mencoba menghindari awan dan naik kembali. Sejenak pemandangan lapisan awan pun terlihat menyembul warna orange sunset yang memancar akibat pancaran sinar matahari, sinar matahari menembus ke dalam pesawat, akibatnya di dalam pesawat menjadi terang namun bila memasuki awan kembali pesawat menjadi gelap kembali karena sinar matahari terhalang masuk.
Sejenak pesawat terbang normal menghindari awan tebal dan setelah itu berbalik arah berputar menjauhi Bandara Branti menuju ke arah Bakauheni, sempat aku menoleh lewat jendela pesawat terlihat jelas Dermaga Pelabuhan Bakauheni, dari sana kemudian pesawat berputar kembali menuju ke arah Bandara Internasional Branti, ada sekitar 1 jam-an kami berputar-putar di angkasa menunggu informasi dari menara ATC Bandara Branti terkait perkembangan cuaca disana untuk melakukan pendaratan lanjutan. 

Alhamdulillah ketika pendaratan ke-2 ini berhasil mulus walau pesawat mengalami turbulence namun masih bisa diatasi atas kerjasama tim yang cukup piawai antara sang pilot dan co-pilot beserta kru pesawat lainnya, walau penumpang masih terlihat panik namun karena tremor tidak terlalu kuat sehingga tidak membuat suasana menjadi gaduh karena penumpang tidak ada pilihan lain kecuali pasrah dan berdoa dan pada pendaratan ini akhirnya berjalan sukses. Alhamdulillah Ya Allah Ya Rabbi ucapku dalam hati Kau telah menyelamatkan kami, tak henti-hentinya aku mengucapkan kalimat syukur. Terlihat wajah penumpang di sekitarku sumringah namun ada beberapa penumpang yang menangis karena shock, setidaknya ada 2 penumpang cewek yang terlihat menangis disekitar tempatku duduk karena kebetulan duduk tepat dibelakangku. Yang lainnya aku tidak sempat memperhatikan akibat kepanikan yang luar bisa yang aku alami sehingga aku hanya fokus pada diriku sendiri. Mungkin sangking riangnya dan terharu, sempat ditenangkan oleh rekan-rekannya.







Wednesday, 22 November 2017

Geliat Sepotong Surga Tersembunyi di Bumi Beguai Jejama



Bumi Beguai Jejama Lampung Barat menyimpan sejuta pesona wisata alam nan indah dan eksotis namun masih ada destinasi wisata tersembunyi yang belum tergali padahal memiliki potensi besar untuk di jual guna pengembangan kepariwisataan kedepan. Contohnya saja ekowisata Keramikan dan Nirwana yang berlokasi di Pekon Gunung Ratu Bandar Negeri Suoh dan Pekon Sukamarga di Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat. Destinasi wisata ini sudah mulai dikembangkan oleh kelompok masyarakat sekitar satu tahun belakangan ini dan mulai tampak ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Terlebih lagi akses jalan menuju Kecamatan BNS dan Suoh sudah mulai dikerjakan sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang terus dilakukan pemerintah daerah untuk membuka ketertinggalan dari kecamatan-kecamatan lainnya.

Wisatawan lokal berasal dari kabupaten sekitar Lampung Barat dan luar Lampung Barat, misalnya Lampung Utara, dan bahkan ada yang dari Bandar Lampung dan Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya. Sementara wisatawan mancanegara biasanya dari Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Chevron Geothermal Indonesia Wilayah Kerja Suoh-Sekincau itu sendiri yang sebelumnya mereka pernah mengadakan survey penelitian terkait deposit akan cadangan panas bumi (Geothermal) yang ada disana. Setidaknya pada hari-hari libur sekolah dan libur nasional sudah banyak pengunjung yang berdatangan di lokasi ini.

Menurut informasi yang kami peroleh dari beberapa pemandu wisata yang mendampingi perjalanan kesana, sejak diberikan ijin oleh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) pasalnya kedua tempat wisata ini masih masuk wilayah kawasan TNBBS, tempat wisata ini mulai dikelola kelompok masyarakat dari 2 pekon atau desa tersebut. Dimana dari tempat  wisata tersebut, roda perekonomian masyarakat mulai menggeliat karena mendapatkan multiplier effect akibat dari kegiatan wisata tersebut misalnya keuntungan dari jasa parkir, jasa ojek, jasa sewa perahu motor, jasa pemandu wisata dan jasa pedagang sementara konon katanya TNBBS pun mendapatkan devisa dari tiket masuk yang terjual yang disetor ke kas negara. Meskipun mendapat izin dengan berbagai persyaratan perjanjian atau kontrak yang sangat ketat. Masyarakat disana tetap berkewajiban menjaga kelestarian alam dan lingkungan flora yang ada disana dengan menanam tanaman yang bermanfaat seperti buah-buahan dan lainnya yang berasal dari bantuan TNBBS.

Dari pintu masuk kita sudah disuguhi hamparan Danau Asam yang cukup luas memanjang dengan warna air hijau kebiru-biruan dan konon katanya air danau bisa berubah-ubah warna sepanjang waktu. Untuk menuju keramikan bisa ditempuh melalui Danau Asam ataupun jalan darat dengan menyewa ojek motor.

Sedangkan bila melalui Danau Asam harus dengan perahu motor jarak tempuhnya sekitar 15 menit-an dengan mengarungi danau tersebut kemudian kita akan disambut oleh pemandu yang siap mengantar kita menuju keramikan dengan berjalan kaki melintasi hamparan pasir kuning sepanjang 300-an meter yang bercampur lumpur dan pasir layaknya hamparan persawahan yang baru dibajak namun lumpurnya tidak terlalu dalam, hanya sebatas tumit kaki saja .

Disebut pasir kuning menurut pemandu wisata disana saat terkena pancaran sinar matahari hamparan pasir tersebut akan terlihat berwarna kuning keemasan dan saat menapaki pasir kuning terasa sekali bau aroma belerang tercium. Kemudian perjalanan masih dilanjutkan dengan berganti pemandu wisata lainnya karena untuk menuju kesana kita harus menyewa pemandu wisata yang khusus tugasnya mengantar pengunjung ke keramikan. Pemandu wisata yang pertama telah selesai menunaikan tugasnya hanya mengantar dari pasir kuning menuju Keramikan, kemudian untuk menuju kawah Nirwana pemandu wisata kedua yang siap mengantar menuju tempat tersebut.
Dengan melintasi padang ilalang dan sedikit belukar serta jembatan air panas yang terbuat dari bambu dan kayu yang panjang bentang jembatannya sekitar 10-15-an meter. Aliran sungai dibawahnya cukup panas. Disana kita harus ektra hati-hati pasalnya jika kita terjatuh dapat dipastikan fatal akibatnya.


Dari jembatan air panas rupanya masih sekitar 1,5 km tiba disana.menurut pemandu yang kami wawancarai, meskipun tidak terlalu jauh jaraknya namun bagi pemula rasanya merupakan tantangan tersendiri yang cukup menantang disamping melelahkan. Butuh usaha dan perjuangan dan tentunya harus dibarengi dengan kondisi fisik prima agar tiba di lokasi tersebut. Sayangnya pada saat itu cuaca kurang bersahabat pasalnya sepanjang perjalanan menuju kesana kami diiringi oleh hujan rintik-rintik dan semakin lama semakin deras.

Dalam perjalanan kesana tak jarang kami menjumpai pengunjung mulai dari orang tua, muda bahkan anak-anak kecil sekalipun dapat kita jumpai disana tak satupun pengunjung merasa terbebani malah sebaliknya mereka mengungkapkan rasa senang dan ceria yang terpancar dari muka-muka mereka.

Meskipun hujan mengguyur, tak tampak sama sekali kecapaian, beberapa pengunjung malah berseloroh dengan ungkapan “Kalau belum sampai ke keramikan belum rasanya ke Suoh pak,” ujar beberapa pengunjung yang kebetulan berpapasan dengan rombongan kami seraya memberi semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Rupanya mereka masih dalam rombongan kami juga namun mereka tak sabar menunggu acara selesai sementara rombongan kami menunggu dahulu proseesi acara seremonial yang telah disiapkan oleh pihak panitia disana dengan suguhan tari-tarian etnik yang dilakukan oleh siswa-siswi tingkat TK hingga SMP Se-Kecamatan Suoh dan BNS.










Cerita Berawal Disini
Awal cerita mengapa kami ke Suoh, sejatinya saya dan rombongan dari dinas, hari itu ada acara rakor bulanan yang rutin kami lakukan. Tempatnya selalu berpindah-pindah dari satu kecamatan ke kecamatan lain, kebetulan bulan ini jadwalnya di Kecamatan Suoh. Saya berkunjung ke sini merupakan kali ke duanya. Setelah pengalaman pertama pada saat acara "Tour De Suoh" dengan acara gowes sepeda santai pada awal tahun 2017 kemarin, namun dalam kesempatan dan acara yang berbeda. Kemudian untuk kali keduanya pada saat rakor di bulan ini. Sebagaimana diketahui untuk melakukan perjalanan ke Suoh bisa ditempuh bisa melalui Kecamatan Batubrak maupun Kecamatan Sekincau.

Sementara bila dari Kecamatan Batubrak memakan waktu perjalanan sekitar 2 jam dengan kondisi jalan yang relatif baik karena sedang dalam pembangunan mulai dari Sukabumi ke Suoh. Berbeda sekali dengan perjalanan ketika awal tahun lalu karena titik yang sulit belum dibangunnya jalan sehingga untuk menuju kesana butuh perjuangan ektra berat dan jarak tempuh pada waktu itu bisa 3 hingga 4 jam baru tiba disana. Tidak seperti sekarang hanya memakan waktu 2 jam bisa tiba disana, kita bisa memakai kendaraan roda 4 jenis mini bus, tidak ada kendala yang berarti lagi hanya butuh kehati-hatian saja pasalnya jalan sedang dalam proses pengerjaan atau pembangunan. Dan pada titik-titik tersulit jalan sudah semuanya di rabat beton sehingga sudah tidak dijumpai lagi ada kendaraan yang selip atau pun “kepater” akibat jalan yang rusak.

Tiba disana sekitar pukul 10-an, rupanya panitia menyiapkan prosesi acara arak-arakan untuk menyambut rombongan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Barat, Bapak Bulki, S.Pd., MM. beserta Istri dan Ibu-ibu Darma Wanita Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Barat, sejauh kurang lebih 300-an meter menuju tempat rakor yaitu di aula SMP Bakhti Mulya Kecamatan Suoh dengan diiringi Drumband siswa-siswi SMP Bakhti Mulya kemudian langsung menuju aula yang telah disiapkan dengan berbagai agenda acara rakor yang dihadiri dari Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah dari tingkat TK, SD dan SMP serta UPTD se- Kabupaten Lampung Barat.


Selesai acara sekitar jam 4 sore kami menuju homestay yang telah disiapkan pihak panitia karena jadwal esok harinya adalah mengunjungi tempat wisata yang Danau Asam, Keramikan dan Nirwana. Namun sebelum menuju ke tempat wisata, kami singgah sebentar ke Sekolah SMP N 3 BNS untuk melakukan penanaman pohon di lingkungan sekolah yang lokasinya tidak jauh dari Danau Asam, dan penanaman pohon pun dilanjutkan di lingkungan lokasi Danau Asam itu sendiri.

Tiba di Keramikan dan Kawah Nirwana Laksana Menemukan Sepotong Surga yang Tersembunyi ( a hidden piece of Paradise)
Rasanya terbayar sudah setibanya di keramikan apalagi setelah sampai di Nirwana, seluruh rasa capai, letih, penat, senang dan gembira bercampur menjadi satu walau seluruh pakaian yang kami kenakan basah kuyup bermandi air hujan. Hilang seketika setibanya di tempat tersebut ketika menikmati eksotisnya alam, tak berlebihan laksana berada di jagat alam nirwana. Sungguh memanjakan mata memandang dan membuat takjub serta terbesit decak kagum di hati akan mahakarya alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT sungguh nan indah yang patut kita syukuri ini.

Sejatinya tempat wisata ini belum begitu populer dikenal di provinsi ini pasalnya baru mulai dikembangkan sebagai tujuan destinasi wisata baru, namun kedua tempat ini, tak jarang dikalangan netizen pengguna medsos sudah menjadi perbincangan hangat. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan disana, kita dapat berfoto-fota dan mengupload di instagram, mengabadikan setiap moment indah dan jarang bersama rombongan disana namun tetap harus mematuhi saran-saran dan petunjuk dari pemandu wisata (tourist guide) disana pasalnya ada zona-zona-tempat yang tidak bisa di lalui alias berbahaya dan zona-zona yang aman untuk berfoto disana.

Nirwana merupakan destinasi wisata baru setelah keramikan dikelola karena skalanya lebih luas baik segi keindahan maupun luas tempatnya, Jarak antara keduanya pun tidak terlalu jauh. “Hanya membutuhkan waktu sekitar 20-an menit saja dari Keramikan menuju kesana dengan berjalan kaki,” ujar salah seorang pemandu wisata.

Belum semua tempat yang dapat kami kunjungi dan jelajahi pasalnya disana menawarkan berbagai pilihan destinasi wisata alam yang cukup indah, ada beberapa danau yang cukup terkenal di Lampung Barat yaitu Danau Lebar, Danau Belibis dan Danau Minyak yang konon airnya dapat berubah-rubah warna dan ada lagi air terjun di Kecamatan Suoh namun kami rombongan belum dapat mengunjungi ke-3 danau dan ari terjun yang indah nan mempesona tersebut dikarenakan keterbatasan waktu berada disana. (tamat)

AYO KE LAMPUNG BARAT...